Schneider Electric Dorong Ekosistem Energi Bersih di Indonesia

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 25 Juni 2026
Schneider Electric Dorong Ekosistem Energi Bersih di Indonesia
Ekosistem Energi Bersih di Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar utama bagi pengembangan energi bersih dan solusi rendah karbon di kawasan ini.

Sebagai ekonomi terbesar dan salah satu pasar energi yang terus berkembang di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kebutuhan jangka panjang yang tinggi akan solusi energi yang lebih bersih, efisien, andal, dan terjangkau, terutama seiring meningkatnya permintaan energi serta kebutuhan dekarbonisasi.

Untuk mendukung pertumbuhan solusi tersebut, Schneider Electric melalui Schneider Electric Energy Access Asia Fund II (SEEAA II) berupaya menjawab salah satu hambatan utama di pasar negara berkembang, yaitu kesenjangan pendanaan awal bagi perusahaan rintisan yang ingin mengembangkan solusi energi bersih dan iklim.

Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, telah lahir berbagai inovasi seperti clean cooking, tenaga surya terdistribusi, hingga solusi ekonomi sirkular.

Meskipun demikian, banyak perusahaan masih menghadapi kesulitan untuk beralih dari fase uji coba menuju skala komersial.

"Fase ini kerap disebut sebagai valley of death, ketika perusahaan masih terlalu dini untuk menarik investor institusional, terlalu padat modal untuk model venture capital tradisional, dan belum memiliki akses memadai terhadap keahlian teknis. Akibatnya, banyak solusi berdampak tinggi belum dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkannya," ujar Gilles Vermot Desroches, SVP Corporate Citizenship & Institutional Affairs Schneider Electric dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (22/6/2026).

Selain itu, Gilles menjelaskan bahwa hambatan ini tidak hanya menyangkut modal, melainkan juga keterbatasan dukungan operasional dan teknis yang diperlukan perusahaan untuk tumbuh berkelanjutan serta menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur.

Oleh karena itu, SEEAA II hadir dengan tiga pendekatan utama.

Pertama, memberikan patient capital atau modal jangka panjang yang disesuaikan dengan karakteristik bisnis energi bersih dan solusi iklim.

Kedua, mendukung perusahaan tidak hanya melalui pendanaan, tetapi juga melalui keahlian teknis, operasional, dan strategis.

Ketiga, menerapkan struktur blended finance untuk memobilisasi lebih banyak modal ke sektor-sektor yang memiliki potensi dampak besar namun dianggap berisiko tinggi oleh investor.

Model ini juga dianggap krusial karena transisi energi tidak hanya menuntut teknologi, tetapi juga struktur pembiayaan yang mampu menjembatani kebutuhan pasar dengan profil risiko investor.

Dalam konteks ini, blended finance berperan katalitik dengan mengombinasikan modal konsesional dan komersial untuk memperbaiki profil risiko serta imbal hasil investasi.

"Blended finance berperan penting dalam menarik modal swasta ke pasar seperti Indonesia, di mana banyak peluang memiliki dampak besar, tetapi juga dipersepsikan berisiko tinggi. Struktur ini membantu menciptakan ruang bagi modal publik atau konsesional untuk memainkan peran katalitik, sehingga modal swasta dapat berpartisipasi dengan lebih percaya diri," terang Gilles.

Lebih jauh, Indonesia juga dipandang menjadi salah satu pasar strategis dalam portofolio regional SEEAA.

Dari sisi komersial, Indonesia memiliki permintaan energi yang terus naik seiring pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi geografis, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menciptakan kebutuhan struktural terhadap solusi energi terdesentralisasi, seperti mini-grid, tenaga surya off-grid, dan sistem energi terdesentralisasi.

Meskipun akses listrik nasional telah meningkat signifikan, masih ada tantangan terkait keandalan, keterjangkauan, dan akses energi bersih, khususnya di daerah terpencil.

Pada saat yang sama, sekitar 80% listrik Indonesia masih bersumber dari bahan bakar fosil, sehingga peluang dekarbonisasi masih sangat luas.

Pemerintah Indonesia pun menargetkan peningkatan kapasitas energi terbarukan secara signifikan, termasuk target mencapai 23 GW energi terbarukan pada 2030, dengan 8 GW di antaranya dari tenaga surya.

Upaya ini sejalan dengan target peningkatan bauran energi terbarukan menjadi 34,3% pada 2034.

Berdasarkan kondisi tersebut, solusi energi bersih di Indonesia tidak hanya relevan untuk menekan emisi, tetapi juga untuk meningkatkan keterjangkauan energi.

Termasuk, untuk memperkuat ketahanan sistem energi serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah yang belum sepenuhnya terlayani.

Dari sisi kesiapan pasar, terdapat beberapa model bisnis energi bersih dan solusi iklim berbasis teknologi yang mulai mendekati skala komersial di Indonesia.

Salah satunya adalah tenaga surya terdistribusi dan rooftop solar, yang semakin diminati sektor komersial dan industri karena dapat membantu stabilitas biaya energi sekaligus mendukung target penurunan emisi.

Selain itu, mobilitas listrik, khususnya kendaraan roda dua, juga memiliki potensi besar.

Dengan lebih dari 120 juta sepeda motor beroperasi di Indonesia, elektrifikasi kendaraan roda dua dapat menjadi salah satu peluang solusi iklim berbasis teknologi terbesar, didorong oleh efisiensi biaya, insentif kebijakan, serta pertumbuhan layanan logistik dan ride-hailing.

Sektor energi terbarukan lain seperti surya, panas bumi, dan biogas juga memiliki peluang besar, mengingat potensi sumber daya energi terbarukan di Indonesia yang masih belum tergarap optimal.

Namun, agar sektor tersebut mampu menarik pendanaan lanjutan dalam skala lebih besar, sejumlah faktor pendukung tetap diperlukan.

Investor memerlukan kepastian regulasi, kerangka kebijakan yang konsisten, struktur proyek yang bankable, tata kelola perusahaan yang kuat, serta infrastruktur pendukung seperti jaringan pengisian kendaraan listrik dan kapasitas jaringan listrik yang memadai.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, SEEAA II menempatkan dukungan pendanaan awal, pendampingan teknis, dan penguatan tata kelola sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan investasi perusahaan rintisan.

Dukungan seperti perbaikan pelaporan keuangan, proses operasional, pengukuran dampak, serta struktur pengambilan keputusan yang lebih kuat dapat membantu mengurangi persepsi risiko di mata investor lanjutan.

"Kesiapan investasi bukan hanya soal ide, tetapi juga fundamental bisnis, mulai dari unit economics yang jelas, pelaporan keuangan yang andal, hingga tata kelola dan struktur pengambilan keputusan yang kuat," ujar Gilles.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan yang sebelumnya dianggap berisiko tinggi dapat berkembang menjadi bisnis yang lebih terstruktur dan layak investasi.

Alhasil, model pembiayaan seperti SEEAA II tidak hanya berfungsi untuk mendukung pertumbuhan perusahaan, melainkan untuk membuka lebih banyak investasi ke sektor-sektor yang vital bagi transisi energi.

"Dengan potensi pasar yang besar, kebutuhan energi yang terus meningkat, dan dukungan kebijakan yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan solusi iklim dalam skala yang lebih besar serta menarik lebih banyak modal institusional ke sektor transisi energi," pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua