Proyek PLTS 100 GWp: Mesin Baru Industrialisasi Nasional

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 26 Juni 2026
Proyek PLTS 100 GWp: Mesin Baru Industrialisasi Nasional
PLTS Hybrid Selayar jadi andalan pasokan listrik ramah lingkungan di wilayah terluar Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Inisiatif pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) bukanlah sekadar upaya penyediaan energi bersih pada umumnya.

Agenda tersebut saat ini dianggap sebagai salah satu penopang utama untuk mendukung rencana strategis Presiden Prabowo Subianto dalam memacu kemandirian energi, industrialisasi dalam negeri, serta pembangunan ekonomi hijau.

Pelaksana Tugas Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Norman Ginting, berpandangan bahwa rencana besar ini perlu dipahami secara lebih komprehensif daripada hanya sekadar aktivitas konstruksi pembangkit.

Menurut dari Sumbernya, PLTS 100 GWp merupakan kesempatan berharga untuk mengembangkan ekosistem industri surya tanah air yang sanggup menunjang visi utama administrasi Prabowo: kedaulatan energi serta penguatan sektor industri domestik.

Dalam rencana induk pemerintahan Prabowo, pemenuhan kebutuhan energi ditempatkan sebagai salah satu fokus prioritas.

Pemanfaatan energi terbarukan, termasuk instalasi PLTS dalam skala masif, dinilai selaras dengan misi memangkas ketergantungan terhadap impor energi fosil sekaligus memperkuat resiliensi ekonomi negara.

Norman memberi peringatan, apabila rencana ini hanya berakhir pada pembelian panel surya serta komponen utama dari mancanegara, negara ini memang akan memperoleh listrik bersih, namun akan melewatkan potensi signifikan dalam penciptaan nilai tambah ekonomi.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi tempat pemasangan panel. Indonesia harus menjadi pusat produksi, integrasi teknologi, pengembangan software, hingga basis ekspor energi surya kawasan,” tegas Norman dalam tulisannya.

Kini, negara ini telah mempunyai kapasitas produksi modul surya sejumlah sekitar 10,9 GW per tahun.

Akan tetapi, kapabilitas industri lokal masih berpusat pada sektor hilir.

Sementara berbagai komponen penting seperti polysilicon, wafer, sel surya berdaya guna tinggi, inverter skala utilitas, serta sistem penyimpanan energi baterai (BESS) masih banyak bergantung pada produk luar.

Jika disusun melalui pendekatan industrialisasi, program PLTS 100 GWp dapat menjadi pemicu munculnya industri ramah lingkungan baru—mulai dari manufaktur panel, inverter, baterai, jaringan cerdas, hingga pusat data hijau.

Dampak berkelanjutannya akan sangat luas: terbukanya ribuan peluang kerja, kenaikan penanaman modal, alih teknologi, serta munculnya pelaku bisnis lokal baru di bidang energi masa depan.

Lebih lanjut, program ini juga bisa menjadi sarana vital dalam menunjang hilirisasi komoditas yang menjadi andalan Prabowo, khususnya nikel, tembaga, serta bauksit, yang sangat terkait dengan rantai pasok baterai serta teknologi simpan energi.

Norman berpendapat momentum ini harus dipastikan melalui peta jalan industri PLTS-BESS nasional, kejelasan urutan proyek setiap tahun, desain tender yang berpihak pada industri, penguatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta kerja sama global-lokal yang konkret.

Dengan demikian, agenda PLTS 100 GWp tidak sekadar menjadi program transisi energi, melainkan juga penggerak baru industrialisasi nasional yang mendukung cita-cita besar Presiden Prabowo: Indonesia yang memiliki kedaulatan energi, kuat dalam industri, serta mampu menjadi pemain utama ekonomi hijau global.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua