JAKARTA - Di balik hamparan lahan Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, sebuah babak baru pembangunan tengah dituliskan.
Kampung Wanam, yang selama ini berjuang dengan keterbatasan akses dan fasilitas dasar, kini menjadi titik sentral dari pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate. Program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya dirancang sebagai pilar kedaulatan pangan nasional, tetapi juga muncul sebagai tumpuan harapan ekonomi baru bagi warga lokal. Transformasi kawasan yang semula berupa rawa menjadi lahan produktif ini diiringi dengan komitmen pemerintah untuk memastikan masyarakat Papua Selatan menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton, dalam arus pembangunan tersebut.
Bagi warga Wanam, kehadiran proyek ini bukan hanya tentang mencetak sawah, melainkan tentang terbukanya isolasi wilayah yang selama ini menghambat mobilitas dan akses kesejahteraan mereka.
Kisah Paul Tinus: Representasi Perubahan Nasib Warga Lokal Di Jalur Proyek
Dampak nyata dari proyek ini mulai dirasakan oleh individu seperti Paul Tinus (29), seorang pemuda asli Wanam yang kini menggantungkan hidupnya pada pengerjaan PSN Merauke. Sebelum proyek ini menyentuh tanah kelahirannya, Paul harus bekerja jauh sebagai pelaut dengan penghasilan yang tidak menentu. Kini, ia dapat bekerja dekat dengan rumah dan keluarga, dengan sistem penggajian bulanan yang lebih stabil untuk menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil.
"Ekonomi keluarga saya terbantu, datang antar makan, habis itu balik lagi ke proyek," tutur Paul. Kisah Paul adalah satu dari sekian banyak potret warga Kampung Wanam yang kini memiliki sumber mata pencaharian baru. Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta dalam proyek ini secara sadar melibatkan masyarakat dari berbagai marga lokal untuk memastikan keberlanjutan sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput.
Brigade Pangan Dan Penciptaan Ribuan Lapangan Kerja Baru
Salah satu strategi utama pemerintah dalam memberdayakan warga lokal adalah melalui pembentukan Brigade Pangan. Menteri Pertanian menekankan bahwa Brigade Pangan ini terdiri dari masyarakat setempat yang dilatih untuk mengoperasikan alat mesin pertanian modern. Dengan pengerahan ratusan alat berat untuk pembukaan lahan, ribuan lapangan kerja baru tercipta secara otomatis, memberikan peluang bagi putra-putri daerah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia mereka di sektor pertanian modern.
Integrasi tenaga kerja lokal ini diharapkan mampu menjawab tantangan pengangguran sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi. Melalui skema ini, warga tidak hanya berperan sebagai buruh kasar, tetapi juga sebagai tenaga teknis yang memahami cara kerja industri pangan berskala luas, dari proses pengolahan lahan hingga manajemen logistik di pelabuhan.
Lompatan Infrastruktur: Membuka Konektivitas Dan Akses Dasar Wanam
Kehadiran food estate di Wanam secara otomatis memacu percepatan pembangunan infrastruktur yang selama ini tertinggal. Hingga Februari 2026, kemajuan pembangunan fisik di kawasan tersebut menunjukkan angka yang signifikan:
Pembangunan Jalan: Jalan akses sepanjang 58,44 kilometer telah terbangun, dengan 11,53 kilometer di antaranya telah memasuki tahap perkerasan.
Dermaga Logistik: Pembangunan dermaga di Wanam telah mencapai 93% dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Maret 2026.
Fasilitas Umum: Rencana pembangunan pelabuhan dan bandara pendukung terus dikebut untuk memperlancar distribusi logistik sekaligus mempermudah mobilitas warga antardistrik.
Infrastruktur yang terintegrasi ini menjadi multiplier effect bagi pembangunan di timur Indonesia. Jalan-jalan yang dibangun untuk mengangkut hasil panen kini juga dapat dinikmati oleh warga untuk membawa hasil tangkapan ikan atau barang dagangan lainnya ke pasar yang lebih besar, menekan biaya transportasi yang sebelumnya sangat mahal.