JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia pada awal perdagangan Selasa menunjukkan tekanan yang cukup terasa.
Kondisi ini menjadi perhatian investor karena fluktuasi yang terjadi membuka peluang sekaligus risiko dalam menentukan strategi investasi jangka pendek.
Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah analis justru melihat adanya potensi teknikal rebound yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar. Momentum ini sering kali menjadi kesempatan bagi investor untuk mencari saham-saham yang berpotensi memberikan keuntungan dalam waktu singkat.
Pergerakan IHSG di Awal Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka melemah pada perdagangan pagi ini. Pada pembukaan, IHSG berada di posisi 7.001,278 sebelum akhirnya turun lebih dalam.
Mengacu data RTI hingga pukul 09.20 WIB, IHSG terkoreksi sebesar 33,463 poin atau setara 0,48 persen ke level 6.955,963. Sepanjang sesi awal perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.015 dan terendah di 6.945.
Pergerakan ini mencerminkan adanya tekanan jual di pasar, terutama dari investor asing yang masih melakukan aksi keluar dari sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Aksi Jual Investor Asing Tekan Pasar
Berdasarkan riset harian BNI Sekuritas, IHSG pada perdagangan sebelumnya, 6 April 2026, ditutup turun sebesar 0,53 persen. Penurunan ini turut dipengaruhi oleh aksi net sell asing yang mencapai Rp611 triliun.
Beberapa saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing di antaranya adalah BBRI, BMRI, BBCA, BUMI, serta BRMS.
Aksi jual ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan indeks. Ketika investor asing menarik dana dari pasar domestik, tekanan terhadap IHSG biasanya meningkat dalam jangka pendek.
Sentimen Global Dorong Optimisme Pasar
Di tengah tekanan domestik, sentimen global justru memberikan angin segar bagi pasar saham. Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin, 6 April 2026.
Indeks S&P 500 naik 0,44 persen, Nasdaq Composite menguat 0,54 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,36 persen.
Penguatan ini dipicu oleh harapan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen geopolitik seperti ini sering kali berdampak langsung terhadap pergerakan pasar global, termasuk Indonesia.
Pergerakan Bursa Asia yang Variatif
Di kawasan Asia, pergerakan indeks saham menunjukkan hasil yang beragam. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat naik 0,55 persen, sementara Topix turun tipis 0,01 persen.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 1,36 persen, sedangkan Kosdaq justru melemah 1,54 persen.
Sebagian besar pasar Asia lainnya tidak beroperasi karena libur hari besar seperti Paskah dan Festival Qingming. Kondisi ini membuat volume transaksi global cenderung lebih rendah dari biasanya.
Peluang Rebound dan Strategi Investor
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, melihat adanya peluang teknikal rebound dalam jangka pendek. Ia menyebut IHSG berpotensi menguat ke kisaran 7.020 hingga 7.050.
“IHSG berpotensi short term teknikal rebound ke 7.020-7.050. Tapi hati-hati, jika belum break di atas 7.050, rentan kembali koreksi hari ini. Diperkirakan support IHSG: 6.850-6.900 dan Resist IHSG: 7.020-7.050,” kata Fanny.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada peluang kenaikan, risiko koreksi tetap perlu diwaspadai. Investor disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance sebelum mengambil keputusan.
Rekomendasi Saham Berpotensi Cuan
Dalam kondisi pasar seperti saat ini, pemilihan saham menjadi kunci utama. Investor biasanya mencari saham dengan fundamental kuat namun sedang mengalami koreksi harga.
Saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA tetap menjadi perhatian karena likuiditasnya tinggi. Selain itu, saham sektor energi seperti BUMI dan BRMS juga menarik untuk dicermati seiring pergerakan harga komoditas global.
Strategi yang umum digunakan adalah buy on weakness, yaitu membeli saham saat harga turun dengan harapan akan rebound dalam jangka pendek. Namun, strategi ini tetap memerlukan analisis teknikal dan manajemen risiko yang baik.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, investor diharapkan tetap disiplin dalam menjalankan strategi. Memanfaatkan peluang rebound tanpa mengabaikan potensi risiko menjadi kunci dalam meraih cuan di tengah volatilitas pasar saham saat ini.