JAKARTA - Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk dalam hal pembiayaan.
Salah satu layanan yang kini semakin populer adalah Buy Now Pay Later atau paylater yang menawarkan kemudahan transaksi tanpa harus membayar langsung di awal. Tren ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat perkotaan, tetapi juga mulai merambah berbagai segmen pengguna di seluruh Indonesia.
Di tengah dinamika tersebut, Otoritas Jasa Keuangan melihat adanya potensi pertumbuhan yang masih sangat besar. Layanan paylater dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan fleksibilitas dalam mengatur keuangan. Terlebih, kemudahan akses melalui aplikasi digital membuat layanan ini semakin diminati, terutama oleh generasi muda dan kelompok usia produktif.
OJK Optimistis Kinerja BNPL Tetap Tumbuh Sepanjang Tahun
Otoritas Jasa Keuangan memproyeksikan kinerja pembiayaan Buy Now Pay Later atau BNPL dari perusahaan pembiayaan akan tetap tumbuh positif sepanjang 2026. Hal ini disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan dan lembaga keuangan lainnya, Agusman, yang menilai ekosistem digital menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
"Khususnya dari segmen usia produktif dan masyarakat yang belum mendapatkan akses layanan keuangan formal," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Rabu (8/4/2026).
Pernyataan ini menegaskan bahwa layanan BNPL tidak hanya menjadi alternatif pembayaran, tetapi juga berperan dalam meningkatkan inklusi keuangan. Masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan kini memiliki opsi pembiayaan yang lebih mudah dan cepat.
Nilai Pembiayaan BNPL Tunjukkan Pertumbuhan Signifikan
Dari sisi kinerja, penyaluran pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan menunjukkan angka yang cukup impresif. Hingga Februari 2026, nilai pembiayaan tercatat mencapai Rp 12,59 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 53,53 persen secara tahunan atau year on year.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, pertumbuhan tersebut mengalami sedikit perlambatan. Pada Januari 2026, pembiayaan BNPL tercatat tumbuh sebesar 71,13 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 12,18 triliun. Hal ini menunjukkan adanya dinamika pertumbuhan yang tetap positif meskipun tidak setinggi periode sebelumnya.
Kondisi ini dianggap wajar mengingat pasar mulai memasuki fase penyesuaian setelah mengalami lonjakan signifikan pada awal tahun. Namun secara keseluruhan, tren pertumbuhan masih berada pada jalur yang positif dan menjanjikan.
Minat Industri Terus Meningkat Dengan Prinsip Kehati Hatian
Seiring dengan kinerja yang terus menunjukkan tren positif, minat industri pembiayaan untuk menghadirkan layanan BNPL juga semakin meningkat. Banyak perusahaan melihat peluang besar dalam menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Meski demikian, OJK menegaskan bahwa pengembangan layanan ini harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kepatuhan terhadap regulasi serta perlindungan konsumen menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan dalam pertumbuhan industri ini.
Dengan pendekatan yang seimbang antara inovasi dan pengawasan, diharapkan layanan BNPL dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan. Hal ini juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital.
Risiko Pembiayaan Tetap Terjaga Meski Ada Kenaikan
Di balik pertumbuhan yang positif, OJK juga mencermati risiko yang menyertai perkembangan layanan BNPL. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Non Performing Financing atau NPF gross. Per Februari 2026, NPF gross BNPL tercatat sebesar 2,79 persen.
Angka ini sedikit meningkat dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar 2,77 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan risiko pembiayaan, meskipun masih dalam batas yang relatif terkendali.
OJK menilai bahwa kondisi tersebut masih berada dalam level yang aman dan dapat dikelola dengan baik oleh industri. Namun, pengawasan tetap diperlukan untuk memastikan risiko tidak meningkat secara signifikan di masa mendatang.
Peran BNPL Dalam Mendorong Inklusi Keuangan Nasional
Keberadaan layanan BNPL tidak hanya berdampak pada kemudahan transaksi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Banyak masyarakat yang sebelumnya belum terjangkau layanan keuangan formal kini dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan ini.
Dengan akses yang lebih luas, masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui berbagai aktivitas ekonomi. Mulai dari kebutuhan konsumtif hingga mendukung usaha kecil, layanan BNPL dapat menjadi solusi pembiayaan yang relevan.
Ke depan, dengan dukungan regulasi yang tepat serta inovasi berkelanjutan dari pelaku industri, layanan BNPL diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. OJK pun optimistis bahwa sektor ini akan tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pertumbuhan industri keuangan digital di Indonesia.