JAKARTA – Simak bagaimana peran energi terbarukan jadi penyelamat negara-negara di dunia saat menghadapi tekanan lonjakan harga minyak dan gas bumi di pasar internasional.
Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil kini mulai menunjukkan titik lemahnya ketika fluktuasi geopolitik mengganggu distribusi serta harga di tingkat global.
"Langkah diversifikasi menuju energi bersih bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan keharusan ekonomi untuk bertahan," ujar narasumber, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Pakar energi memandang bahwa percepatan pembangunan infrastruktur tenaga surya dan angin secara otomatis memotong beban anggaran negara untuk subsidi bahan bakar.
Investasi pada teknologi hijau terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memberikan perlindungan dari risiko inflasi energi yang tak terkendali.
"Negara yang sudah mengadopsi porsi besar energi terbarukan terbukti lebih tangguh menghadapi guncangan harga migas dunia," jelas narasumber, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Penurunan biaya produksi panel surya selama 10 tahun terakhir menjadikan transisi ini jauh lebih masuk akal secara finansial bagi banyak wilayah berkembang.
Transformasi sistem kelistrikan menuju kemandirian lokal membantu masyarakat terhindar dari pemadaman bergilir akibat keterbatasan stok batu bara atau gas.
"Kemandirian energi melalui pemanfaatan potensi lokal adalah kunci kedaulatan sebuah negara di era modern," ungkap narasumber, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Banyak pemimpin dunia kini sepakat bahwa mempercepat target emisi nol bersih sejalan dengan upaya menjaga daya beli warga dari lonjakan biaya hidup.
Sinergi antara regulasi pemerintah dan dukungan sektor swasta diperlukan untuk memastikan aliran modal ke proyek hijau berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi.