JAKARTA – WALHI soroti absennya pemerintah Indonesia di forum global sebagai bukti lemahnya komitmen nyata dalam mempercepat agenda transisi energi nasional.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal kemunduran di tengah desakan publik internasional untuk segera meninggalkan ketergantungan pada energi fosil.
Ketidakhadiran delegasi resmi negara dalam pertemuan strategis tersebut menimbulkan tanda tanya besar mengenai keseriusan dalam mengejar target emisi nol bersih.
Manajer Kampanye Tambang dan Energi WALHI Nasional, Abra Yerushua berpendapat, bahwa ketidakhadiran pemerintah Indonesia dalam forum internasional ini menunjukkan ketidakkonsistenan antara retorika di panggung dalam negeri dengan aksi nyata di level global.
Kesenjangan kebijakan ini dikhawatirkan akan menghambat aliran investasi hijau yang sangat dibutuhkan untuk membiayai pergeseran sektor energi di tanah air.
"Ketidakhadiran Indonesia dalam forum ini menunjukkan bahwa pemerintah semakin menjauh dari komitmen transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan," tegas Abra Yerushua dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Padahal, sebagai salah satu pemegang cadangan sumber daya alam terbesar, posisi tawar Indonesia seharusnya sangat kuat dalam menentukan arah kebijakan energi dunia.
Publik kini menanti langkah konkret dari otoritas terkait agar visi ramah lingkungan tidak sekadar menjadi dokumen di atas kertas tanpa implementasi lapangan.