JAKARTA – Konsumsi listrik data center global diprediksi naik 2 kali lipat pada 2030 hingga tembus 1.000 TWh akibat masifnya penggunaan AI dan teknologi digital dunia.
Kebutuhan daya untuk menopang infrastruktur digital menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
International Energy Agency melaporkan bahwa beban energi yang terserap oleh fasilitas penyimpanan data di seluruh dunia akan terus membengkak secara eksponensial.
Organisasi tersebut memperkirakan bahwa kebutuhan daya listrik untuk operasional pusat data global dapat mencapai angka 1.000 TWh pada akhir dekade ini.
"Konsumsi listrik data center secara global berpotensi naik 2 kali lipat pada 2030," tulis tim riset Katadata dalam laporannya, Kamis (30/4/2026).
Peningkatan ini dipicu oleh kebutuhan komputasi yang semakin kompleks, terutama untuk melatih model bahasa besar dan menjalankan aplikasi kecerdasan buatan secara real time.
Kondisi tersebut menuntut ketersediaan pasokan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan agar operasional dunia digital tidak terhambat kendala teknis kelistrikan.
Riset Katadata menyebutkan bahwa pada 2022 beban listrik sektor ini masih berada di level 460 TWh sebelum akhirnya diproyeksikan melonjak drastis.
Kapasitas tambahan yang dibutuhkan untuk mengakomodasi data center baru diprediksi akan memberikan tekanan besar pada jaringan listrik di negara-negara pusat teknologi.
Banyak perusahaan penyedia jasa komputasi awan kini mulai melirik sumber energi terbarukan guna menekan emisi karbon dari aktivitas penggunaan listrik yang masif tersebut.