JAKARTA – Indonesia masih mengandalkan batu bara sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik guna memastikan tarif listrik tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kebutuhan akan energi murah menjadi alasan mendasar mengapa sumber daya fosil ini tetap mendominasi bauran energi nasional. Pemerintah melihat bahwa transisi menuju energi terbarukan harus dilakukan secara cermat tanpa mengorbankan daya beli masyarakat terhadap akses listrik.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyampaikan bahwa biaya produksi listrik dari batu bara saat ini masih yang paling ekonomis dibandingkan sumber energi lainnya.
Dadan Kusdiana menjelaskan, ketergantungan pada batu bara bukan tanpa alasan karena pemerintah ingin memastikan bahwa tidak ada lonjakan beban biaya yang harus ditanggung konsumen dalam waktu dekat.
"Kita memang masih menggunakan batu bara karena ini adalah salah satu cara untuk menjaga agar tarif listrik tidak naik," ungkap Dadan di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Langkah ini diambil sebagai strategi jangka pendek hingga menengah sembari mempersiapkan infrastruktur energi bersih yang lebih matang. Pemanfaatan teknologi terbaru pada pembangkit listrik tenaga uap juga terus didorong agar emisi yang dihasilkan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Pemerintah menyadari tekanan global untuk segera beralih ke energi hijau sangat besar, namun realitas ekonomi domestik menuntut keseimbangan yang tepat. Tanpa dukungan subsidi yang sangat besar, peralihan instan ke energi terbarukan berpotensi mengerek biaya hidup masyarakat secara signifikan.
Mekanisme pasar energi global yang fluktuatif membuat keberadaan cadangan batu bara melimpah di dalam negeri menjadi jaring pengaman yang sangat strategis.
Dadan Kusdiana menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen tetap menjalankan peta jalan transisi energi namun dengan skala prioritas yang terukur.
"Target net zero emission tetap kita tuju, tetapi ketahanan energi dan keterjangkauan harga bagi rakyat adalah prioritas yang tidak bisa ditawar," tutur Dadan.
Proses dekarbonisasi akan dilakukan secara bertahap melalui pemensiunan dini sejumlah pembangkit listrik tua yang memiliki tingkat polusi tinggi. Dengan demikian, stabilitas pasokan listrik tetap terjaga sementara kualitas lingkungan hidup secara perlahan mulai ditingkatkan melalui skema pendanaan hijau.