BANDUNG – Indonesia hadapi ironi besar saat potensi energi yang tertahan di kebun sawit gagal dioptimalkan akibat buruknya manajemen dan akses infrastruktur kebun.
Persoalan utama yang muncul saat ini sesungguhnya bukan disebabkan oleh keterbatasan lahan atau pengaruh iklim yang ekstrem.
Memet Hakim berpendapat, bahwa Indonesia sesungguhnya belum kekurangan sumber energi, melainkan kehilangan kemampuan mengeluarkan potensi yang sudah ada di kebunnya sendiri.
Ia menilai bahwa banyak perkebunan saat ini dibiarkan berjalan sendiri tanpa adanya sentuhan manajemen yang layak bagi tanaman.
"Produksi sawit nasional—gabungan minyak sawit dan inti sawit—pada 2024 tercatat sekitar 52,8 juta ton. Angka itu besar," ujar Memet Hakim, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Minggu (3/5/2026).
Kelalaian dalam perawatan tanaman dan pengabaian pemupukan yang optimal menjadi faktor pemicu rendahnya produktivitas di lapangan.
Kondisi jalan produksi yang mengalami kerusakan selama bertahun-tahun menghambat proses pengangkutan hasil panen menuju pabrik pengolahan terdekat.
"Sebagian tandan buah segar bahkan tak pernah sampai ke pabrik karena tak ada akses angkut yang memadai," tutur Memet Hakim dalam keterangannya.
Fenomena brondolan yang tertinggal di area perkebunan menjadi bukti nyata hilangnya nilai ekonomi yang seharusnya bisa dimanfaatkan negara.
Area bagian dalam kebun seringkali berubah menjadi hutan kecil yang rimbun namun tidak memberikan kontribusi hasil yang produktif.
Memet Hakim menegaskan, bahwa dalam logika pembangunan nasional, praktik tersebut justru menjadi beban karena menyebabkan produksi rendah serta pajak yang kecil.
Kesejahteraan petani kini berada dalam posisi yang terancam akibat fondasi ketahanan energi yang terus mengalami pelemahan secara sistematis.
Angka produksi yang tidak mencapai target maksimal berujung pada stagnansi lapangan kerja di sektor perkebunan kelapa sawit nasional.
Pemerintah perlu segera membenahi karut-marut manajemen ini agar kehilangan penerimaan negara tidak terus berlanjut pada masa mendatang.