JAKARTA – Tenaga surya jadi penyelamat internet Afrika saat krisis energi melanda, memastikan jutaan orang tetap terhubung meski infrastruktur listrik tradisional goyah.
Ketergantungan pada jaringan listrik konvensional yang sering mengalami gangguan memaksa perusahaan teknologi mencari alternatif yang lebih stabil. Sektor telekomunikasi kini berada di garis depan dalam mengadopsi solusi hijau untuk menjaga menara seluler tetap aktif sepanjang waktu.
"Kami melihat pergeseran besar di mana perusahaan telekomunikasi kini beralih ke panel surya dan baterai untuk memitigasi dampak pemadaman listrik yang kronis," ujar Thomas Chalumeau, Chief Strategy Officer Orange Middle East and Africa, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Senin (4/5/2026).
Langkah ini diambil guna menghindari kerugian finansial yang masif akibat terputusnya koneksi di wilayah pusat ekonomi.
Thomas Chalumeau menjelaskan bahwa penggunaan energi terbarukan bukan sekadar pilihan lingkungan, melainkan kebutuhan operasional demi menjaga ketersediaan layanan internet bagi pelanggan di 18 negara Afrika.
Sistem hibrida yang menggabungkan tenaga matahari dengan penyimpanan baterai canggih mulai menggantikan generator diesel yang mahal dan kotor.
Laporan terbaru menunjukkan 20 persen menara telekomunikasi di beberapa wilayah sub-Sahara kini telah ditenagai oleh sumber energi mandiri.
Infrastruktur digital yang kuat dianggap sebagai fondasi utama bagi perkembangan layanan perbankan seluler dan pendidikan daring.
Transformasi ini membantu menurunkan biaya operasional jangka panjang meskipun investasi awal untuk perangkat keras tenaga surya cukup tinggi. Keberhasilan model ini diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi asing ke dalam proyek infrastruktur energi bersih di Benua Hitam.