Mengenal Fenomena Tidal Intrusion Fronts di Perairan Nusantara

Senin, 11 Mei 2026 | 12:01:33 WIB
Fenomena Tidal Intrusion Fronts di Perairan Nusantara (FOTO: NET)

JAKARTA - Kepala Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. A’an Johan Wahyudi, menyebutkan bahwa laut dalam punya fungsi vital bukan cuma untuk sirkulasi global, melainkan juga wadah penyimpanan energi panas dan pengatur siklus karbon dunia.

Sebagai negara kepulauan terbesar di bumi, Indonesia memiliki wilayah perairan yang amat luas, tapi sebagian besar area laut dalamnya belum dipetakan secara mendetail.

“Laut dalam bukan hanya ruang geografis yang jauh dari permukaan, melainkan juga sistem yang sangat aktif secara fisik, kimia, dan biologis,” kata Prof. A’an, dalam kegiatan Deep-Sea Science Forum ke-3 dengan tema “Mengungkap Misteri Laut Nusantara” pada Selasa (5/5) di Jakarta.

Oleh karena itu, menurut A'an, studi terkait laut dalam memiliki nilai strategis yang sangat penting bagi Indonesia.

Dalam forum itu, Gerry Gilliant Salamena dari Pusat Riset Laut Dalam BRIN memaparkan fenomena yang masih jarang dibahas di konteks perairan nasional, yakni tidal intrusion fronts.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks dinamika fluida laut yang melibatkan kompetisi antara proses adveksi (pergerakan massa air) dan kecepatan rambat gelombang internal pada sistem laut berlapis densitas, terutama di wilayah penyempitan seperti selat atau kanal dangkal,” kata Gerry.

Secara teoritis, gejala tersebut sangat berhubungan dengan parameter Bilangan Froude yang digunakan untuk menjelaskan keseimbangan antara laju aliran dan kecepatan gelombang internal.

“Dalam konteks tidal fronts, nilai Froude menjadi indikator penting dalam menentukan terbentuknya front, yang umumnya terjadi ketika nilai mencapai ambang sekitar ? 0,3, menandakan kondisi aliran yang lebih kritis,” ujarnya.

Fenomena ini hadir saat massa air berdensitas tinggi masuk dan berinteraksi dengan massa air berdensitas lebih rendah, sehingga membentuk batas nyata yang disebut front.

Di lingkup Indonesia, mekanisme tersebut dipengaruhi oleh intrusi massa air hasil upwelling di Laut Banda yang berinteraksi di area selat sempit.

Dampaknya cukup besar, terutama pada sebaran partikel laut.

Macam-macam elemen seperti plankton, larva ikan, sampai sampah laut punya kecenderungan berkumpul di sekitar area front tersebut.

Selain itu, menurut Gerry, fenomena ini juga berpengaruh pada percampuran massa air, distribusi nutrisi, serta dinamika ekosistem laut secara global.

Dinamika laut dalam di tanah air, mulai dari masuknya massa air hingga sistem sirkulasi seperti di Laut Sulawesi, menjadi poin krusial lainnya.

Laut Sulawesi adalah salah satu titik kunci sistem sirkulasi laut dunia, khususnya pada jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo).

Berdasar penjelasan Prof. Agus Saleh Atmadipoera dari IPB University, massa air dari Samudra Pasifik yang mengalir ke Indonesia melalui Laut Sulawesi tidak bergerak lurus, melainkan mengalami pembelokan, percabangan, serta resirkulasi sebelum ke Selat Makassar.

Karakteristik ini menunjukkan rumitnya sistem sirkulasi yang dipengaruhi bentuk dasar laut serta interaksi arus regional, ungkap Prof. Agus.

Hadirnya pusaran arus (eddy) di wilayah ini juga memicu proses upwelling dan downwelling yang berperan kunci dalam distribusi nutrisi dan produktivitas biologis laut.

Terkini