PLN EPI Digitalisasi Pembibitan Biomassa demi Transisi Energi

Senin, 11 Mei 2026 | 14:07:40 WIB
PLTGU Tambak Lorok terus berinovasi dengan mengintegrasikan energi ramah lingkungan (FOTO: NET)

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkolaborasi dengan PT PLN (Persero) menjalankan modernisasi sektor pembibitan tanaman biomassa lewat teknologi digital.

Upaya ini dilakukan guna mendukung program transisi energi, mengurangi emisi, serta meningkatkan perekonomian di tingkat daerah.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui skema Electrifying Agriculture yang telah diterapkan di Kelurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Sebagai informasi, biomassa merupakan sumber energi dari bahan organik terbarukan yang berasal dari organisme hidup, mencakup tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme.

“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” kata Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia, Mamit Setiawan, Sabtu (9/5/2026).

Mamit menjelaskan bahwa pemakaian sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) membuat pemeliharaan bibit terjadwal akurat dan terkontrol lewat ponsel.

Teknologi ini diklaim mampu mengoptimalkan penggunaan air, meminimalisir beban kerja manual, serta menjamin kualitas bibit yang dihasilkan.

PLN EPI sedang fokus mengembangkan rumah pembibitan untuk tanaman jenis indigofera dan kaliandra sebagai bahan campuran batu bara dalam sistem cofiring PLTU.

"Program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," terangnya.

Fasilitas rumah bibit tersebut dikelola oleh Gapoktan Tani Mulya dengan dukungan instalasi listrik, sistem penyiraman digital, hingga pembekalan tata kelola modern.

Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni berpendapat bahwa program ini sangat sesuai dengan karakteristik lahan di Gunungkidul yang cenderung kering dan kritis.

“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” ungkapnya.

Menurut Asih, masyarakat sudah mulai merasakan manfaat nyata dari program ini.

Selain untuk energi, daun tanaman indigofera dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai bahan pewarna alami dalam pembuatan kerajinan eco print.

Di sisi lain, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo, memandang bahwa pengembangan biomassa yang melibatkan masyarakat merupakan model kolaborasi ideal.

“Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi,” pungkasnya.

Terkini