JAKARTA - Tindakan tegas terhadap pusat penipuan dan judi online oleh pihak berwenang Thailand di Myanmar serta Kamboja ternyata bukan akhir dari kejahatan lintas negara ini.
Kini, operasional judi online justru mulai masuk ke negara lain, termasuk wilayah Indonesia.
Pada pekan lalu, pihak kepolisian melakukan penggerebekan di Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat, yang difungsikan sebagai markas jaringan internasional.
Dalam tindakan tersebut, sebanyak 320 Warga Negara Asing (WNA) dan satu WNI diamankan, di mana mayoritas berasal dari Vietnam sebanyak 228 orang.
Alfons Tanujaya, selaku pakar keamanan siber, berpendapat bahwa fenomena ini tidak berarti seluruh pusat judi online berpindah ke Indonesia.
Temuan aktivitas di Jakarta Barat tersebut menegaskan pola kejahatan transnasional yang terus berpindah tempat demi menghindari jangkauan aparat.
"Jangan sampai salah anggap bahwa Indonesia, semua pindah ke Indonesia. Dari Kamboja pindah ke Indonesia, Kamboja yang antah-berantah pindah ke Indonesia, bukan begitu. Ini memang terjadi di mana-mana, gitu, loh," ujar Alfons.
Alfons memaparkan bahwa markas di Indonesia ini dimanfaatkan untuk menjaring warga negara lain.
Dominasi operator asal Vietnam menunjukkan bahwa target utama mereka bukan masyarakat lokal Indonesia, melainkan pasar di negara asal mereka agar komunikasi berjalan lancar.
"Jadi yang tertangkap (di Hayam Wuruk) ini kemungkinan besar market-nya adalah Vietnam atau China atau Thailand sesuai dengan kewarganegaraan. Kenapa? Karena untuk nipu orang Vietnam, pakai bahasa Vietnam, bukan pakai orang Indonesia gitu," tutur Alfons. Ia menambahkan, "Anda nipu orang Indonesia pakai orang Vietnam, ngomong apa? Bahasa dong? Kan konyol. Jadi itu yang perlu disadari."
Di sisi lain, temuan dari Dittipideksus Bareskrim Polri memperlihatkan bahwa situs judi online yang menyasar warga Indonesia, seperti CIVICTOTO dan JALUTOTO, diduga kuat justru dikendalikan dari Kamboja.
Hal tersebut terindikasi dari sistem setoran dan penarikan dana yang memakai rekening bank di Indonesia.
"Situs tersebut menggunakan sistem deposit dan withdraw melalui rekening bank di Indonesia, sehingga diduga kuat situs tersebut menargetkan masyarakat Indonesia sebagai pengguna atau market," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Ade Safri Simanjuntak.
Kepolisian telah mengamankan pengendali situs berinisial LT alias T di Tangerang, yang diketahui membawahi 17 pekerja di Kamboja sejak tahun 2022.
"Mereka terdiri dari 1 manager, 2 admin, 13 operator dan 1 auditor untuk menjalankan operasional situs judi online yang seluruhnya berada di Kamboja," jelas Ade.
Penggunaan metode lintas negara ini sengaja dilakukan agar operasional mereka sulit terendus.
Apabila pelaku berada di luar negeri, Polri memerlukan kerja sama internasional yang menempuh proses panjang.
Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Eliasta Sembiring Meliala, menilai jaringan ini memilih Indonesia karena dianggap punya sistem hukum yang belum sempurna serta koordinasi antarlembaga yang masih lemah.
Guna menanggulangi hal ini, Alfons menyarankan adanya penguatan pengawasan di gerbang masuk negara supaya WNA tidak mudah melewati batas izin tinggal.
Ia juga menekankan pentingnya melakukan pemblokiran pada server, bukan hanya sekadar menutup iklan.
Langkah tersebut dilakukan dengan menelusuri alamat IP melalui tautan yang ada dalam iklan tersebut.
"Jangan ngeblok iklannya, itu kurang pintar, gitu, loh. Jadi yang diblok itu server-nya," tegas Alfons.
Senada dengan hal tersebut, Rudianto Lallo selaku Anggota Komisi III DPR RI, mendesak kepolisian bertindak tegas supaya Indonesia tidak menjadi lokasi aman bagi sindikat global.
Ia meminta agar aktor intelektual serta pihak yang melindungi praktik tersebut segera diungkap.
Pihak kepolisian sendiri sudah memetakan adanya pergeseran markas dari wilayah Indochina ke Indonesia.
Brigjen Polri Untung Widyatmoko, Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri, menyebutkan bahwa pergerakan ini telah diprediksi.
"Setelah ditertibkan (di negara-negara tersebut), mulai terjadi pergeseran ke Indonesia dan itu tentunya sudah kami antisipasi dan kami prediksi," pungkas Untung.