PGE Perkuat Panas Bumi Sebagai Pilar Utama Transisi Energi Rendah Karbon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:11:12 WIB
Sejumlah pekerja memeriksa instalasi saluran uap panas bumi (FOTO: NET)

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) selaku perusahaan energi terbarukan berbasis panas bumi terus mempertegas perannya dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) di Indonesia serta kontribusi pada Nationally Determined Contribution (NDC) lewat penyediaan energi rendah karbon.

Meski bisnis yang dikelola sudah masuk dalam kategori energi hijau rendah emisi, PGE tetap konsisten menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi serta pengurangan emisi di seluruh lini bisnis dan operasionalnya.

Tindakan ini merupakan bagian dari penerapan operasi yang berkelanjutan.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho menyatakan bahwa penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi elemen penting dalam memastikan pengembangan panas bumi yang andal, efisien, dan memiliki daya saing.

Andi menjelaskan bahwa seluruh penerapan keberlanjutan perusahaan dilaksanakan secara transparan dengan merujuk pada standar pelaporan global.

Laporan keberlanjutan perusahaan juga telah melewati proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1 dan type 2 level moderate.

Merujuk pada Laporan Keberlanjutan 2025, PGE mencatatkan penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 40.058,77 MWh.

Kenaikan efisiensi ini didorong oleh berbagai optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), seperti debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang memungkinkan sumur bertekanan rendah masuk ke sistem produksi, optimalisasi operasional vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE untuk menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna meminimalkan uap yang terbuang ke rock muffler.

Selain itu, perusahaan terus memacu beragam inovasi efisiensi energi dan reduksi emisi, termasuk penggunaan energi terbarukan untuk keperluan internal operasional seperti pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas kantor dan operasional.

Di sisi lain, PGE mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Rasio tersebut merupakan perbandingan antara total energi yang dikonsumsi perusahaan dengan total listrik panas bumi yang dihasilkan, sementara penggunaan energi terbarukan dalam operasional tetap terjaga tinggi mencapai 94,36%.

Dalam hal pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE berada pada angka 41,12 g CO2e/kWh, masih jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.

Pencapaian ini membuktikan bahwa operasional panas bumi PGE tetap berada dalam kategori energi rendah karbon, di mana kapasitas operasi panas bumi PGE turut berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e pada 2025.

Selain mendorong efisiensi energi dan reduksi emisi, PGE terus memperkuat pengelolaan limbah non-B3 secara berkelanjutan lewat metode 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery).

Pada 2025, volume limbah non-B3 yang dikelola melalui metode tersebut mencapai 17 ton, meningkat 24,5% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 13,66 ton.

Pengelolaan limbah berkelanjutan ini dijalankan melalui pendekatan waste circularity dengan penerapan manajemen limbah non-B3 secara terjadwal dan bertanggung jawab.

Limbah tersebut dibawa ke bank sampah atau tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar area operasi untuk dikelola bersama masyarakat lewat pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengomposan.

Langkah ini bertujuan mendukung pengelolaan sampah berbasis prinsip 4R sekaligus memacu partisipasi masyarakat dalam ekonomi sirkular.

Di samping itu, PGE memperkokoh pengelolaan sumber daya air secara bertanggung jawab sebagai bagian dari operasi berkelanjutan.

Pada 2025, konsumsi air perusahaan tercatat menyusut 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan 393,23 megaliter pada tahun 2024.

Komitmen ini diwujudkan melalui pengembangan beyond electricity, termasuk ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi.

Salah satunya lewat proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang memanfaatkan green hydrogen untuk mendukung kebutuhan energi di terminal LPG Cilegon, di mana inovasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi dekarbonisasi lintas sektor.

PGE juga membuka peluang pengembangan pemanfaatan energi panas bumi untuk kebutuhan industri hijau lainnya, termasuk pengembangan green data center berbasis energi bersih rendah emisi.

Sejalan dengan penguatan tersebut, pengelolaan LST perusahaan terus menunjukkan kinerja positif, tercermin dari skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 atau kategori risiko dapat diabaikan pada 2025.

Skor ini menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dalam jajaran Top 50 ESG Global dari 42 negara, serta meraih berbagai penghargaan termasuk 20 penghargaan PROPER Emas hingga 2026.

“Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan. Komitmen tersebut dijalankan sejalan dengan empat pilar keberlanjutan PGE, yaitu Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst,” terang Andi.

Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar.

Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian energi nasional.

Terkini