JAKARTA - Lonjakan tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah yang disebabkan oleh konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai memicu kekhawatiran atas ancaman krisis energi di tingkat global.
Ancaman terhambatnya jalur pengiriman minyak dunia melalui Selat Hormuz bahkan diperkirakan dapat memicu harga minyak mentah melesat hingga melewati US$100 per barel.
Ketua Umum DPP Ikatan Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhannas) Masa Jabatan 2026-2031, Purnomo Yusgiantoro, menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perputaran energi global karena menyalurkan hampir 20 persen dari seluruh suplai minyak dunia.
“Konflik yang terjadi menyebabkan distribusi minyak dunia terganggu. Selat Hormuz menjadi key of the game dalam kebutuhan minyak dunia,” ujar Purnomo di sela pelantikannya sebagai Ketua Umum IKAL Lemhannas di Gedung Lemhannas, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Purnomo yang sekarang juga dipercaya menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi itu menjelaskan bahwa melambungnya harga minyak akan memicu dampak berantai yang besar bagi ekonomi global, termasuk menaikkan harga energi serta biaya logistik bahan pokok lainnya.
Kondisi tersebut mendorong banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energi mereka masing-masing.
Purnomo menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia kini terus mendorong percepatan transisi ke energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah jangka panjang untuk menghadapi ketidakpastian pasar energi global.
Meski begitu, proses perpindahan energi tersebut tidak mungkin dilakukan secara instan.
“Indonesia menuju net zero emission pada 2060. Jadi transisi energi membutuhkan waktu,” katanya.
Selain mempercepat pengembangan energi bersih, pemerintah juga menerapkan langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dan bahan energi dari berbagai negara produsen.
Berdasarkan pemaparan Purnomo, Indonesia saat ini tidak hanya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, tetapi juga mulai membuka peluang kolaborasi energi dengan Rusia, Amerika Serikat, hingga wilayah Amerika Latin.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang membuka peluang kerja sama impor minyak dari Rusia merupakan bagian dari strategi taktis untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.