Aceh Bersiap Rebut Kembali Takhta Migas Nasional Melalui NSB
JAKARTA PUSAT - Wilayah Aceh kembali menjadi sorotan dalam industri hulu migas di tingkat nasional.
Di kala Indonesia tengah berupaya keras memperkuat ketahanan energi, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menunjukkan rasa optimis yang tinggi terkait potensi kandungan migas di Cekungan Sumatra Utara (North Sumatra Basin/NSB) yang dipandang masih sangat menjanjikan namun belum dikembangkan secara optimal.
Pada pergelaran forum IPA Convex 2026, pihak BPMA menjelaskan bahwa terdapat lebih dari 9 miliar barel setara minyak (BBOE) sumber daya migas yang masih menanti untuk ditemukan di area Aceh dan sekitarnya.
Jumlah tersebut melengkapi temuan sebelumnya yang berkisar sekitar 8,6 BBOE hidrokarbon in-place dari rekam jejak eksplorasi yang panjang semenjak tahun 1855.
“North Sumatra Basin adalah salah satu cekungan paling produktif di Indonesia, tetapi ironisnya masih under-explored di sejumlah area,” demikian salah satu poin penting dalam paparan BPMA yang dibaca ruangenergi.com.
Kandungan yang sangat besar tersebut tersebar pada tujuh sub-basin yang didominasi oleh karakteristik wet gas.
Sejumlah penemuan bersejarah seperti Lapangan Arun yang menyimpan cadangan gas sekitar 14–16 TCF serta Lapangan Rantau dengan taksiran minyak mencapai 300 juta barel menjadi bukti nyata bahwa bumi Serambi Mekah pernah menjadi penopang utama energi nasional.
Pada saat ini, BPMA memiliki target untuk membangkitkan kembali masa-masa kejayaan masa lalu itu.
Sektor offshore Aceh, khususnya di wilayah Andaman serta Sibolga, diposisikan sebagai wilayah frontier baru yang belum banyak dieksplorasi.
Bahkan, pihak BPMA mengakui bahwa kegiatan pencarian migas di laut dalam pada wilayah tersebut masih sangat minim jika dikomparasikan dengan Cekungan Sumatra Tengah ataupun Sumatra Selatan.
Meski demikian, geliat aktivitas eksplorasi kini sudah mulai memperlihatkan pergerakan.
Keberadaan Sumur Rencong-1X di WK Andaman III diklaim mampu membuka pola pikir baru dalam melakukan eksplorasi di area North Sumatra Basin.
Di samping itu, proses uji coba produksi pada sumur Arun A-55A telah berhasil membuktikan adanya temuan cadangan migas yang baru.
Tidak terbatas pada kegiatan pengeboran saja, BPMA pun tengah memacu pelaksanaan survei seismik secara masif.
Langkah ini meliputi survei 3D seluas hingga 1.000 km² di kawasan Offshore Northwest Aceh (ONWA) dan Offshore Southwest Aceh (OSWA), sampai dengan agenda survei di Bireuen-Sigli serta Blok B yang diproyeksikan terus berjalan hingga tahun 2026.
Melalui dokumen pemaparannya, BPMA turut menyodorkan beberapa wilayah prospektif anyar kepada para investor.
Satu di antara yang mendapat perhatian lebih ialah Arakundo Joint Study Area (JSA), sebuah kawasan yang pada waktu sebelumnya pernah diteliti oleh pihak Pertamina bersama Repsol.
Pihak BPMA membeberkan bahwa wilayah ini berada di lingkaran lapangan migas yang berstatus aktif, mempunyai 20 closure serta 37 lead clastic interval, ditambah lagi dengan adanya potensi ekstra pada basement fractured pre-Tertiary.
Mengingat tingkat kedalaman lautnya yang tergolong cukup dangkal berkisar antara 0–100 meter, kawasan ini dinilai sangat memikat secara nilai ekonomi maupun teknis.
Wilayah lain yang turut dikedepankan adalah “Area 2”, yang merupakan eks wilayah kerja dari Zaratex NV (Pexco Energy Group).
Berdasarkan penjelasan BPMA, blok tersebut menyimpan prospek berskala multi-TCF dengan karakteristik reservoir karbonat yang menyerupai Lapangan Arun serta diperkuat oleh kepemilikan data seismik 3D seluas 3.750 km².
Walau begitu, jalannya proyek ini sempat mengalami kendala dikarenakan operator terdahulu belum berhasil memperoleh mitra kerja guna mengimplementasikan Plan of Development (PoD).
Ruangenergi.com membaca paparan BPMA yang menuliskan, selain eksplorasi, BPMA juga menyiapkan strategi peningkatan produksi.
Langkah optimalisasi pada sarana fasilitas produksi diperkirakan bakal mampu mendongkrak tingkat penjualan gas dari yang semula 20 MMSCFD merangkak naik hingga menjadi 35 MMSCFD.
Nilai dari keekonomian proyek tersebut pun terkerek naik secara signifikan, dengan taksiran NPV yang melonjak dari angka US$9,3 juta menuju US$104 juta, sementara bagian yang didapatkan oleh pemerintah (government take) meroket dari US$16,9 juta menjadi US$335 juta.
Pihak BPMA pun menyusun rencana kerja berupa pengembangan 13 titik sumur baru dengan nilai investasi mencapai US$195 juta serta pelaksanaan 15 program workover dan well service yang memakan biaya sebesar US$30 juta.
Strategi terstruktur ini diharapkan dapat kembali menggairahkan sektor produksi migas di wilayah Aceh yang selama beberapa puluh tahun ke belakang ini terus mengalami tren penurunan selepas terlewatinya masa keemasan Arun LNG.
Di tengah situasi melonjaknya angka kebutuhan energi di tingkat nasional serta bergulirnya proses transisi energi di kancah global, wilayah Aceh tampaknya tengah bersiap-siap untuk kembali naik ke level tertinggi sebagai salah satu titik pusat pertumbuhan industri migas di Indonesia.
Berbekal perpaduan antara keberadaan cekungan lama yang belum sepenuhnya dieksplorasi, penemuan-penemuan mutakhir di wilayah Andaman, serta sokongan dari investasi dan aspek teknologi, Aceh pada saat ini bukan lagi sekadar menjadi bahan cerita nostalgia migas di masa lampau—melainkan berpotensi besar menjadi tumpuan harapan baru bagi sektor energi nasional di masa depan.