Tiket Piala Dunia 2026 Selangit, FIFA Dipanggil Jaksa AS

Jaksa AS menyatakan bahwa para penggemar sepak bola (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Jumat, 29 Mei 2026 | 15:58:20 WIB

JAKARTA - Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tinggi. Lonjakan harga yang sangat mahal tersebut memicu tindakan tegas dari pihak kejaksaan setempat.

Pada hari Kamis (28/5/2026), aparat hukum wilayah tersebut mengirimkan surat panggilan resmi kepada FIFA untuk mengusut tarif tiket yang dinilai tidak wajar serta adanya dugaan manipulasi informasi mengenai posisi tempat duduk penonton.

Kejuaraan yang akan berlangsung di tiga negara ini diprediksi menjadi turnamen dengan biaya paling tinggi sepanjang masa.

Bukan hanya masalah tarif masuk, kompetisi akbar ini juga mendapat gelombang protes akibat dampak ekonomi dan dinamika politik yang menyertainya.

Dalam rilis resmi, pihak berwenang menegaskan bahwa nilai jual bangku stadion kali ini berlipat ganda dibanding edisi terdahulu.

"Warga New York telah menunggu bertahun-tahun agar Piala Dunia hadir di wilayah mereka dan mereka pantas mendapatkan kesempatan untuk membeli tiket dengan harga terjangkau," kata James.

"Tidak seorang pun seharusnya terpaksa membayar harga selangit demi sebuah kursi, dan para penggemar harus dapat memastikan bahwa tiket yang mereka beli sesuai dengan yang mereka terima," lanjutnya.

Adapun laga puncak rencananya digelar di arena megah yang biasa digunakan untuk pertandingan sepak bola Amerika.

"Transparansi soal penjualan tiket itu sebenarnya tidak rumit. Namun, FIFA membuat pembelian tiket Piala Dunia jadi penuh kebingungan, ada kesan kelangkaan yang dibuat-buat, dan harga yang dipatok terlalu mahal," kata Jennifer Davenport.

Pimpinan tertinggi FIFA berdalih bahwa sistem tarif fleksibel yang mengikuti tren pasar merupakan hal yang lumrah.

Hal ini disebabkan oleh antusiasme masyarakat dunia yang luar biasa besar serta mengikuti regulasi pasar olahraga di negara tersebut.

Pihak asosiasi juga menyebut aturan setempat menyulitkan pembatasan aksi calo atau peredaran tiket tangan kedua.

Walau demikian, mayoritas bangku tetap dilepas dengan angka yang jauh di atas rata-rata laga olahraga lain, terkecuali segelintir kuota murah yang disiapkan untuk laga pembuka.

Bahkan tarif menonton laga final dikabarkan menembus ribuan dolar, naik hingga lima kali lipat daripada turnamen di Qatar sebelumnya.

Jika ditarik mundur ke edisi tahun 1994, selisih biayanya bahkan mencapai puluhan kali lipat lebih murah.

"Menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah sebuah kehormatan, tetapi ajang ini bukanlah undangan untuk mengeksploitasi masyarakat serta pengunjung kami," tegas Davenport.

Kasus ini memperpanjang rentetan polemik seputar pelaksanaan turnamen sepak bola terbesar ini.

Sebelumnya, komunitas pendukung tim nasional juga telah melayangkan protes resmi ke tingkat internasional terkait kebijakan komersial FIFA.

Ditambah lagi, biaya akomodasi pendukung seperti transportasi publik menuju lokasi dan tarif parkir kendaraan ikut membebani penonton.

Penyediaan kuota murah yang sangat minim dinilai gagal menenangkan kekecewaan para pecinta sepak bola.

Reporter: David Ilham