Dominasi Baterai EV Global, India Pacu Manufaktur Domestik

Pengguna kendaraan listrik sedang melakukan pengisian baterai di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Jumat, 29 Mei 2026 | 15:58:20 WIB

INDIA - Sektor baterai kendaraan listrik (EV) global kian menjelma jadi poros persaingan strategis dalam industri otomotif dunia.

Seiring melonjaknya adopsi kendaraan listrik, para produsen baterai sekarang memegang peran yang sama krusialnya dengan pemasok mesin serta sistem transmisi di era kendaraan konvensional.

Menyadur laporan SNE Research yang dirilis Auto Punditz, penyerapan baterai EV di tingkat global sepanjang 2025 menembus kisaran 1.187 GWh, atau mengalami pertumbuhan sebesar 31,7% secara year-on-year (yoy).

Sektor ini terpantau masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asal Asia, khususnya Tiongkok.

Dua korporasi raksasa, CATL dan BYD, berhasil mengendalikan lebih dari separuh total instalasi baterai EV di seluruh dunia pada tahun lalu.

CATL memimpin pasar dengan sangat kokoh lewat instalasi sebesar 464,7 GWh dan mengamankan pangsa pasar hingga 39,2% pada 2025.

Pencapaian tersebut menjadikan CATL sebagai satu-satunya produsen baterai yang sanggup meraih pangsa pasar di atas angka 30%.

Kekuatan utama dari CATL ini berakar dari dominasi mereka di pasar domestik Tiongkok, kawasan Eropa, serta kemitraan dengan berbagai platform kendaraan listrik global.

Keunggulan dalam aspek teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) turut membuat CATL mampu menjaga jarak persaingan dari para kompetitor asal Korea Selatan dan Jepang.

Sementara itu, BYD membuntuti di posisi kedua lewat instalasi baterai yang mencapai 194,8 GWh dengan perolehan pangsa pasar sebesar 16,4%.

Berbeda dari CATL, kelebihan utama BYD terletak pada sistem integrasi vertikal karena mereka juga berstatus sebagai salah satu produsen EV terbesar di dunia saat ini.

Strategi tersebut memudahkan BYD dalam menekan ongkos produksi, menjamin keamanan pasokan komponen baterai, sekaligus mempercepat penetrasi kendaraan listrik mereka ke pasar internasional.

Secara kumulatif, duet CATL dan BYD mencatatkan total instalasi baterai sebesar 659,5 GWh atau menguasai sekitar 55,6% pasar baterai EV global sepanjang 2025.

Kedigdayaan Tiongkok tampak semakin absolut dalam daftar 10 besar produsen baterai EV dunia, di mana enam perusahaan di dalamnya berasal dari Negeri Tirai Bambu, termasuk nama-mana seperti CALB, Gotion High-Tech, EVE Energy, dan Svolt.

Berdasarkan laporan tersebut, dominasi Tiongkok disokong oleh skala produksi yang masif, efisiensi biaya ekonomi, kuatnya permintaan EV di pasar domestik, hingga akselerasi penggunaan teknologi baterai LFP yang dinilai lebih murah serta aman untuk pasar massal.

Di sisi lain, para pemain kawakan dari Korea Selatan dan Jepang masih mempertahankan peran penting mereka.

LG Energy Solution tetap kokoh sebagai produsen non-Tiongkok terbesar dengan raihan instalasi 108,8 GWh dan pangsa pasar 9,2%.

Perusahaan lain seperti SK On, Samsung SDI, dan Panasonic juga terpantau masih mampu bertahan di jajaran 10 besar dunia.

Kendati demikian, tekanan yang dihadapi perusahaan asal Korea Selatan dan Jepang kini semakin berat lantaran produsen Tiongkok bergerak jauh lebih agresif dalam ekspansi global dan berani menawarkan solusi pendanaan yang lebih kompetitif.

Pada waktu yang bersamaan, India kini tengah gencar memacu pengembangan ekosistem baterai EV di dalam negeri mereka sendiri.

Walaupun saat ini masih memiliki ketergantungan pada impor sel baterai dari Tiongkok dan negara Asia lainnya, India mulai menggalakkan lokalisasi manufaktur lithium-ion lewat suntikan investasi-investasi baru.

Pemerintah India mengawal strategi tersebut melalui program insentif Production Linked Incentive (PLI) khusus untuk Advanced Chemistry Cell (ACC) battery storage.

Agenda strategis ini turut menyeret keterlibatan korporasi kakap seperti Reliance New Energy Solar, Ola Electric Mobility, Hyundai Global Motors, hingga Rajesh Exports.

Beberapa pelaku bisnis yang kini menjadi tiang utama industri baterai EV di India di antaranya adalah Tata Agratas, Ola Electric, Reliance New Energy, Exide Energy Solutions, dan Amara Raja Energy & Mobility.

Sebagai contoh, Tata Agratas memiliki target untuk mendirikan fasilitas pabrik sel lithium-ion dengan kapasitas 20 GWh di Gujarat guna menyuplai kebutuhan kendaraan listrik serta penyimpanan energi.

Ola Electric juga sedang membangun fasilitas produksi sel baterai di wilayah Tamil Nadu dan sudah memperkenalkan produk bernama 4680 Bharat Cell yang dirakit secara lokal.

Laporan itu menggarisbawahi bahwa India memang masih berada pada fase awal dalam industri manufaktur sel baterai EV.

Banyak pelaku usaha domestik di sana yang saat ini dinilai masih berfokus pada tahapan perakitan battery pack saja, padahal nilai strategis paling tinggi sebenarnya berada pada proses produksi sel baterai itu sendiri.

Meskipun begitu, pergerakan masif dari perusahaan besar seperti Tata Agratas, Ola, Reliance, Exide, dan Amara Raja menjadi sebuah sinyal kuat bahwa India sudah mulai melangkah menuju lokalisasi industri baterai EV yang jauh lebih mendalam.

Reporter: David Ilham