SKK Migas: Investasi dan Pekerja Jaga Ketahanan Energi
JAKARTA - Aktivitas pengeboran pada sumur-sumur lama terus dipacu guna menjaga kestabilan angka produksi migas di tingkat nasional.
Peran dari sumur-sumur tersebut dinilai sangat vital apabila melihat tren penurunan performa produksi pada sejumlah aset utama yang selama ini diandalkan.
Salah satu program pengeboran yang kini tengah berjalan berada di Sungai Anggur-3 (SA-3) oleh PT Sele Raya Belida (SRB) di Wilayah Kerja Belida, Sumatera Selatan, yang menjadi bagian dari langkah nyata industri hulu migas demi menjaga suplai nasional sekaligus menyokong target ketahanan energi di tanah air.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa seluruh pelaksanaan pengeboran migas tercipta dari sinergi antara nyali investor dalam menggelontorkan dana serta dedikasi tinggi para pekerja yang mengeksekusi operasional di area kerja.
Djoko mengumpamakan setiap tetes minyak bumi dan gas yang diproduksi ialah buah dari sebuah perjuangan yang bernilai besar.
“Investor menanggung risiko finansial yang tinggi sejak tahap eksplorasi, sementara pekerja migas menghadapi berbagai tantangan operasional dan keselamatan kerja di lapangan. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga pasokan energi nasional,” kata Djoko, Kamis (4/6).
Dipaparkan oleh Djoko, sebelum proses pengeboran dapat dieksekusi, pihak investor wajib menyiapkan anggaran yang masif untuk keperluan survei seismik, kepengurusan izin, belanja perangkat, sampai dengan pemindahan rig pengeboran.
Seluruh modal yang dikeluarkan tersebut ditempuh tanpa adanya garansi kesuksesan karena potensi sumur kering atau tidak bernilai ekonomis selalu membayangi.
Di sudut lain, para kru migas mengawal jalannya operasional selama 24 jam penuh secara shift dengan beragam potensi bahaya kerja yang wajib dimitigasi secara disiplin lewat pemberlakuan standar keselamatan yang ketat.
“Kegiatan pengeboran membutuhkan komitmen luar biasa dari seluruh pihak. Karena itu, keberhasilan setiap sumur yang dibor harus diapresiasi sebagai hasil kerja keras bersama untuk mendukung ketahanan energi Indonesia,” katanya.
Pada saat ini PT Sele Raya Belida sedang merampungkan proses pengeboran sumur SA-3.
Menilik data operasional paling anyar, korporasi tersebut telah merampungkan tahapan pemasangan casing ukuran 9-5/8 inci hingga mencapai kedalaman 3.227 feet measured depth (ftMD).
PT Sele Raya Belida bertindak sebagai operator di Wilayah Kerja Belida yang terletak pada Cekungan Sumatera Selatan.
Kesepakatan kontrak bagi hasil untuk Blok Belida diresmikan sejak tahun 2004 silam dan area operasi ini melingkupi beberapa lapangan migas, seperti Sungai Anggur, Sungai Anggur Barat, Sungai Anggur Selatan (SAS), serta Cantik.
Untuk Lapangan Sungai Anggur sendiri merupakan area minyak yang berada di kawasan Pedataran, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Proses hilirisasi dan pengerjaan lapangan-lapangan di Blok Belida ini menjadi salah satu penyumbang angka produksi migas nasional dari area Sumatera Selatan.
Lewat agenda pengeboran serta pembukaan sumur-sumur baru, korporasi ini diproyeksikan mampu mendongkrak performa produksi sekaligus mempertebal cadangan migas milik negara.
Pihak SKK Migas menaruh harapan agar seluruh tahapan operasional pengeboran SA-3 ini dapat terlaksana dengan aman, selamat, serta mampu memenuhi target yang dicanangkan demi menyumbang kontribusi terbaik bagi kenaikan produksi migas nasional.