KAI Jadikan Jalur Listrik Strategi Tekan Emisi Karbon
JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI mengandalkan program elektrifikasi pada jalur rel sebagai langkah utama demi menekan pembuangan emisi karbon serta menyokong sasaran Net Zero Emission (NZE) Indonesia di tahun 2060.
Kebijakan ini menjadi bagian utuh dari Strategi Net Zero Emission yang dirancang oleh KAI selaku program jangka panjang demi memangkas emisi di bidang transportasi sekaligus menyukseskan agenda transisi energi di tingkat nasional.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, memaparkan bahwa perancangan skema tersebut selaras dengan regulasi Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 yang mengatur tentang mitigasi perubahan iklim pada sektor transportasi.
"Melalui strategi tersebut, KAI menetapkan empat arah utama pengurangan emisi, yaitu elektrifikasi jalur rel, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi yang lebih bersih, serta penyerapan karbon melalui program penghijauan," ujar Anne di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dipaparkan oleh Anne, fokus utama diarahkan pada elektrifikasi lantaran moda transportasi kereta api memiliki derajat emisi yang tergolong minim bila disandingkan dengan moda transportasi darat yang lain.
Mengacu pada hasil analisis yang dibeberkan dalam agenda Towards a Green Rail Future: Delivering a Decarbonized Railway in Indonesia, ranah perkeretaapian cuma menyumbangkan kisaran 1 persen dari total emisi gas rumah kaca di sektor transportasi tanah air.
Di lain pihak, armada kendaraan darat menyumbang porsi mendekati 89 persen terhadap total buangan emisi pada sektor yang sama.
Anne berpendapat bahwa sarana transportasi yang berjalan di atas rel memegang andil strategis dalam memfasilitasi pergerakan warga sekaligus meminimalkan emisi karbon.
"Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi Net Zer Emission, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang," ucap Anne.
Sebagai wujud nyata dari pelaksanaan strategi itu, KAI secara konsisten memperbanyak jangkauan pasokan daya listrik pada sektor pelayanan kereta jalurnya.
Untuk saat ini, bentangan rel yang sudah berhasil dialiri listrik telah menyentuh angka 1.038,7 kilometer.
Areal jalur tersebut meliputi bermacam ragam operasional kereta berbasis listrik layaknya KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, sampai moda kereta cepat Whoosh.
Bukan hanya itu, KAI juga terus memacu eskalasi konversi menuju energi yang jauh lebih bersahabat bagi lingkungan.
Sebagai contoh, pemakaian bahan bakar biodiesel telah merangkak naik dari tingkat B0 pada periode 2017 menuju tahapan B40 pada musim 2025 serta diproyeksikan bakal menembus angka B50 di tahun 2026.
Pihak manajemen juga mengoptimalkan potensi energi surya lewat langkah pemasangan panel pembangkit dengan daya tampung total 3.435,5 kWp yang ditempatkan tersebar di 66 titik area kerja.
Melangkah ke aspek yang lain, gerakan absorbsi karbon ikut digalakkan lewat program penanaman vegetasi hijau.
Di sepanjang rentang waktu tahun 2021 hingga tahun 2025, KAI tercatat telah menanam sebanyak 107.757 batang pohon di bermacam-macam sektor wilayah kerjanya.
"Anjloknya emisi tidak lepas dari kontribusi ini. Sepanjang 2021 hingga 2025, KAI telah menanam 107.757 pohon di berbagai wilayah operasional sebagai bagian dari penyerapan karbon," lanjut Anne.
Pada kesempatan yang sama, Vice President of Sustainability KAI, Tria Mutiari Melian, menjabarkan bahwa KAI memegang peran krusial dalam mensubstitusi agenda dekarbonisasi pada bidang transportasi nasional.
Sebab bertindak selaku pilar utama transportasi massal di Indonesia, KAI dianggap mempunyai posisi yang sangat strategis guna menggerakkan perpindahan menuju sistem ekonomi yang minim emisi karbon.
"Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang," ujar Tria.
Tria membeberkan bahwa hasil studi yang digarap bersama pihak UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) serta Kynergy Consulting membuktikan moda transportasi berbasis rel mempunyai derajat emisi yang terbilang kecil dibanding moda transportasi lainnya.
Bersandarkan pada studi tersebut, armada LRT Jabodebek memproduksi emisi di kisaran angka 15 gram CO2-eq untuk tiap penumpang-kilometer.
Sedangkan untuk KA Antarkota memproduksi emisi pada kisaran angka 16,43 gram CO2-eq per penumpang-kilometer dan moda KRL Commuter Line berada pada angka 34,03 gram CO2-eq untuk setiap penumpang-kilometer.
Menurut penilaian Tria, sokongan dari UK PACT serta Kynergy Consulting turut memberikan andil besar dalam merumuskan aneka kebijakan taktis untuk mengakselerasi dekarbonisasi di ranah perkeretaapian nasional.
"Dukungan UK PACT dan Kynergy Consulting dalam penyusunan strategi ini mencakup kajian implementasi B50, analisis percepatan transisi KRD menuju KRL dan modernisasi sistem persinyalan, serta pengembangan instrumen pembiayaan yang membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pembiayaan hijau internasional," pungkasnya.