JAKARTA - Kehadiran Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Rusia dinilai mempunyai makna strategis bagi penguatan kemitraan, sebab Indonesia mempunyai wibawa tersendiri dalam merawat keberlanjutan serta stabilitas hubungan antara ASEAN dan Rusia di tengah dinamika geopolitik dunia.
Hal tersebut diutarakan oleh pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah, yang mengacu pada status Indonesia sebagai salah satu negara pelopor ASEAN sekaligus negara dengan kekuatan ekonomi dan jumlah penduduk paling besar di kawasan.
“Kehadiran RI ke Rusia dalam konteks ASEAN-Rusia sangatlah penting. Sebagai pendiri ASEAN dengan ekonomi dan penduduk yang terbesar, RI memiliki kharisma tersendiri, sebagai penjamin mantapnya kerjasama ASEAN-Rusia,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Pembelajaran dari Universitas Padjadjaran tersebut mengutarakan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam forum ini tidak cuma bernilai secara simbolis, melainkan juga mendatangkan faedah nyata untuk kemajuan kerja sama baik pada level bilateral maupun regional.
Indonesia dan Rusia waktu ini telah mengantongi dokumen Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) yang menurut Reza, segala capaiannya dapat saling disampaikan dalam dialog bilateral.
“Terutama sekali jika sudah menyangkut Asta Cita, Sustainable Development Goals (SDGs), dan upaya dukungan ASEAN-Rusia bagi perdamaian dan kerjasama dengan kawasan Timur Tengah,” sambungnya.
Di samping memperkokoh relasi bilateral, pengamat tersebut mengutarakan asa agar Indonesia bisa memacu terciptanya agenda bersama ASEAN-Rusia yang lebih terarah, sehingga kegunaannya dapat dirasakan secara adil oleh segenap negara anggota ASEAN.
“KTT ASEAN-Rusia hendaknya memiliki agenda bersama, yang dibuat secara sistematis dan terukur, hingga bermanfaat bagi semua anggota ASEAN, kecil hingga besar,” kata dia.
Lewat kontribusi aktif Indonesia, forum ASEAN-Rusia diharapkan dapat membuahkan tindakan nyata yang memperkokoh kerja sama ekonomi, pembangunan berkelanjutan, serta sumbangsih terhadap stabilitas dan perdamaian, baik di kawasan maupun dunia.
Kehadiran Indonesia di KTT ASEAN-Rusia yang digelar pada 17-19 Juni di Kazan, Rusia, diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.
Menteri Sekretaris Negara yang juga Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, memaparkan alasan Presiden Prabowo Subianto urung menghadiri agenda itu.
Prasetyo memaparkan salah satu pertimbangannya lantaran Presiden Prabowo baru saja bersua dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada 13 April 2026, serta telah bersua beberapa pemimpin negara anggota ASEAN waktu KTT ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026.
“Presiden memiliki pertimbangan tersendiri karena memang masih banyak hal yang Presiden ingin fokus untuk diselesaikan di dalam negeri,” kata Mensesneg menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di area gerbang utama kediaman pribadi Prabowo, Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.