Airlangga & Dubes Kuwait Bahas Eksplorasi Migas KUFPEC di RI
JAKARTA - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia Khalid Jassim Alyassin beberapa waktu lalu (17/6/06).
Sesi pertemuan tersebut mendiskusikan seputar penguatan jalinan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, serta energi.
Di sektor energi sendiri, Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC) tercatat sudah terlibat aktif pada 8 aktivitas eksplorasi migas di tanah air, seperti di wilayah Pulau Buton, Laut Natuna, hingga Kalimantan Timur.
"Konsorsium KUFPEC Indonesia BV juga telah melaksanakan eksplorasi migas di wilayah Anambas," ungkap Airlangga, dikutip Jumat (19/6/2026).
Kemitraan pada sektor energi antara Indonesia dengan Kuwait sebetulnya sudah terajut secara baik lewat kesepakatan MoU Kerja Sama Migas dan Petrokimia yang ditandatangani pada tahun 2019 silam.
Di samping sektor energi, kedua negara juga sudah mengesahkan beberapa Nota Kesepahaman lain, di antaranya MoU Pembentukan Komisi Bersama, MoU Kerja Sama Ekonomi dan Teknik tahun 2007, serta MoU Kerja Sama Perdagangan tahun 2007.
"Berbagai Nota Kesepahaman yang dimiliki kedua negara menunjukkan signifikansi peran Indonesia bagi Kuwait, khususnya di bidang ekonomi", ujar Duta Besar Khalid.
Selanjutnya, Menko Airlangga bersama Dubes Khalid memegang komitmen kuat untuk mengawal realisasi dari MoU tersebut agar mampu menghadirkan faedah yang maksimal bagi ketahanan energi sekaligus relasi bilateral kedua negara.
Bukan hanya itu, kedua belah pihak pun bersepakat memacu percepatan penuntasan negosiasi Indonesia-GCC (negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk) Free Trade Agreement, yang ditargetkan bisa selesai pada akhir tahun 2026.
Jalinan ekonomi antara Indonesia dan Kuwait pun memperlihatkan tren yang ke arah positif.
Sepanjang tahun 2025, akumulasi nilai perdagangan kedua negara melonjak hingga 10,69% ke angka USD606 juta, dari yang sebelumnya sebesar US$ 547,5 juta di tahun 2024.
Di sisi lain, angka investasi Kuwait di Indonesia juga merangkak naik dari posisi US$ 290 ribu pada tahun 2024 menjadi senilai USD1,2 juta di tahun 2025 dengan dominasi pada sektor migas.
"Indonesia dan Kuwait memiliki hubungan diplomatik dengan fondasi yang kuat. Hal ini penting dalam memperluas kerja sama bilateral. Kedua negara sepakat untuk terus bekerja sama dalam ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik," ungkap Airlangga.
Agenda ini menjadi momen tatap muka kedua bagi mereka setelah sebelumnya sempat bersua pertama kali saat penyerahan Letter of Credence Dubes Khalid kepada Presiden Prabowo pada bulan November 2025.