Studi Baru: Kemampuan Hutan Tropis Serap Karbon Minim

Kemampuan Hutan Tropis Serap Karbon Minim (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 25 Juni 2026 | 15:01:32 WIB

JAKARTA - Selama ini, hutan tropis dianggap sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) utama di dunia yang krusial untuk menahan laju perubahan iklim.

Kemampuannya dalam mengikat emisi karbon di atmosfer menjadikan ekosistem tersebut sangat penting guna memelihara keseimbangan iklim global.

Akan tetapi, riset terbaru menunjukkan bahwa kapasitas tersebut ternyata diduga tidak lagi sebesar perkiraan selama ini.

Sebuah studi berjudul "Improved Latitudinal Carbon Budgets from Global Airborne Surveys" menunjukkan bahwa vegetasi di wilayah tropis menyerap karbon jauh lebih sedikit daripada hasil pemodelan sebelumnya.

Hasil ini didapat melalui integrasi beragam survei udara serta pengamatan atmosfer global yang memberikan gambaran lebih akurat mengenai pertukaran karbon di berbagai belahan dunia.

Salah satu peneliti dalam studi itu, Dr. Michael Bertolacci dari University of Western Australia, menjelaskan bahwa mengukur pertukaran karbon di atmosfer bukanlah perkara mudah.

Maka dari itu, tim peneliti menggunakan metode pelacakan konsentrasi CO2 di udara serta arah pergerakan angin untuk mengetahui asal dan tujuan pergerakan karbon tersebut.

"Kami mengukur berapa banyak CO2 yang ada di udara dan melacaknya kembali melalui angin untuk menemukan dari mana asalnya," ujar Michael.

Dari analisis tersebut, para peneliti memperoleh temuan yang cukup mengejutkan.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah tropis tampaknya menyerap karbon lebih sedikit daripada yang diprediksi oleh banyak penelitian dan model lain, dan bahkan mungkin mendekati netral dalam pertukaran karbonnya," kata Michael.

Temuan ini menjadi perhatian penting, terutama bagi negara-negara dengan kawasan hutan tropis luas, termasuk Indonesia.

Menurut data KLHK, Indonesia memiliki sekitar 126 juta hektare hutan hujan tropis dan menjadikannya negara dengan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brasil serta Republik Demokratik Kongo.

Apabila kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon terus menurun, kontribusinya dalam meredam emisi gas rumah kaca pun dapat berkurang.

Situasi ini berpotensi memengaruhi berbagai strategi global yang selama ini mengandalkan hutan sebagai penyerap karbon alami.

Berdasarkan hasil riset itu, para ilmuwan menilai pemahaman mengenai siklus karbon global perlu diperbarui agar proyeksi perubahan iklim ke depan menjadi lebih presisi.

"Temuan ini penting karena kami perlu mengetahui ekosistem mana yang membantu kami memerangi perubahan iklim dengan menyerap lebih banyak karbon dan ekosistem mana yang melepaskan lebih banyak CO2," ujar Michael.

Selain itu, hasil studi ini menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tidak bisa hanya bergantung pada hutan tropis.

Reporter: David Ilham