PLTP Kamojang Cetak Rekor Produksi Listrik, Terangi 260 Ribu Keluarga

Pembangkit listrik panas bumi area Kamojang milik Pertamina Geothermal Energy (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Selasa, 30 Juni 2026 | 16:11:54 WIB

JAKARTA - Dalam rangka mendorong percepatan peralihan energi, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang menorehkan pencapaian penting.

Fasilitas panas bumi yang paling lama beroperasi di Indonesia tersebut berhasil memproduksi listrik sebanyak 1.806,41 Gigawatt Hour (GWh) selama tahun 2025, yang merupakan angka pencapaian tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Hasil produksi dari PLTP Kamojang ini mengalami kenaikan sebesar 1,23 persen secara tahunan dan menjadi raihan produksi paling tinggi dibandingkan semua Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).

“PGE memperkuat peran Kamojang dalam perjalanan panjang pengembangan panas bumi Indonesia yang memasuki usia satu abad,” ungkap dari Sumbernya dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Berawal dari ditemukannya potensi panas bumi pada tahun 1926 di Kamojang, Jawa Barat, daerah tersebut kini bertransformasi menjadi salah satu titik sentral pengembangan energi panas bumi nasional.

Lewat kelima unit PLTP yang sedang beroperasi, Area Kamojang mengelola kapasitas total terpasang sebesar 235 Megawatt (MW) yang sanggup melistriki lebih dari 260 ribu keluarga dengan aliran listrik yang konsisten setiap harinya.

Tingkat pencapaian ini membuktikan bahwa panas bumi merupakan sumber tenaga yang dapat diandalkan serta berkelanjutan.

Panas bumi tidak cuma mampu terus memproduksi energi ramah lingkungan, akan tetapi juga senantiasa memberikan dampak positif yang semakin meluas bagi warga.

Dari Sumbernya menjelaskan, sejarah panas bumi di Kamojang menjadi saksi bahwa energi ramah lingkungan dapat berkembang menjadi dasar ketahanan energi.

Serta memberikan dampak berkelanjutan bagi warga.

Dari Sumbernya menegaskan, panas bumi merupakan salah satu bukti konkret perjalanan panjang energi ramah lingkungan di Indonesia.

“Potensinya yang ditemukan di Kamojang pada 1926 kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh Pertamina melalui operasional PLTP Kamojang sejak 1983,” ucapnya.

Pada periode tersebut, kata dari Sumbernya, bahan bakar fosil masih mendominasi sebagai sumber tenaga primer.

Akan tetapi, perusahaan telah membangun dasar energi terbarukan yang saat ini terbukti sanggup memasok listrik secara konsisten.

Berperan sebagai penyangga energi ramah lingkungan, tambahnya, panas bumi menjadi sumber tenaga strategis untuk menambah porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) di dalam campuran energi nasional.

“Hal ini merupakan salah satu bagian dari strategi pertumbuhan ganda Pertamina,” katanya.

Stabilitas operasional PLTP Kamojang turut memperkokoh agenda peralihan energi nasional, mengurangi emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO2 (karbon dioksida) tiap tahunnya, sembari membantu pencapaian sasaran Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.

Di samping berperan dalam penyediaan energi ramah lingkungan, sejarah panjang panas bumi di Kamojang memberikan pengaruh ekonomi serta sosial bagi warga di sekitarnya.

Reporter: David Ilham