JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah merencanakan pembelian besar-besaran armada pesawat baru. Kabarnya, maskapai pelat merah ini berencana membeli hingga 79 unit pesawat dari Boeing. Namun, keputusan akhir soal produsen pesawat masih terbuka, dengan opsi dari Boeing, Airbus, hingga Comac dari China menjadi pertimbangan.
Kebebasan Pilihan Produsen Pesawat
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa pihaknya tidak membatasi Garuda Indonesia dalam memilih armada dari produsen mana pun, asalkan pesawat tersebut memenuhi standar kelayakan dan keselamatan penerbangan.
Baca JugaINKA Jelaskan Dinamika Sistem Pintu KRL pada Fase Pendampingan Operasional Awal
“Tentunya Garuda punya pertimbangan, apakah dia mau menambah Boeing atau menambah Airbus, atau mungkin menambah pesawat Comac ya, kalau saya tidak salah buatan China,” kata Dudy dalam diskusi media di Jakarta.
Dudy menegaskan bahwa aspek utama bagi Kementerian Perhubungan adalah memastikan bahwa armada yang dioperasikan aman dan layak terbang. "Dari sisi Kementerian Perhubungan, apapun pesawat itu, sepanjang itu layak memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan dan sudah disertifikasi oleh pihak-pihak otoritas yang terkait dengan pesawat tersebut, kami terbuka," jelasnya.
Keputusan Berdasarkan Penilaian Garuda
Meski baru-baru ini ada sejumlah catatan terhadap produk Boeing akibat beberapa insiden kecelakaan, Dudy yakin Garuda Indonesia memiliki kompetensi dan keahlian dalam menilai kelayakan armada yang akan dioperasikan.
“Bahwa ada masukan maupun ada catatan mungkin yang berkaitan dengan produk tersebut, saya rasa Garuda punya ekspertis atau punya kompetensi untuk menilai pesawat mana yang menurut Garuda dan yang layak untuk dioperasikan oleh Garuda,” ujarnya.
Bagian dari Negosiasi Tarif dengan Amerika Serikat
Langkah Garuda untuk membeli 79 pesawat baru dari Boeing juga menjadi bagian dari negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan bahwa pengadaan pesawat ini merupakan bagian penting dari kesepakatan baru pasca restrukturisasi perusahaan.
“Termasuk pengadaan pesawat terbang yang memang kita masih kurang,” kata Erick Thohir usai pertemuan di Kompleks Parlemen Jakarta.
Menurut Erick, perjanjian pembelian armada ini merupakan perjanjian baru setelah perjanjian lama dinyatakan gugur akibat proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). “Dengan agreement baru, ya, bukan agreement yang lama. Kalau agreement yang lama kan sudah selesai, sudah gugur di PKPU. Jadi ini yang baru. Jumlahnya makanya naik kan kalau enggak salah jadi 79,” tuturnya.
Garuda Indonesia bersama Pertamina juga menjadi mitra strategis dalam negosiasi tarif impor dari Amerika Serikat. Pertamina bahkan berencana mengalihkan sumber impor minyak mentahnya ke AS, yang menjadi bagian dari kesepakatan lebih luas senilai sekitar 34 miliar dolar AS.
Dengan langkah ini, Garuda Indonesia berupaya memperbarui dan memperkuat armadanya, sekaligus mendukung kebijakan strategis nasional dalam memperkuat hubungan dagang dan investasi dengan mitra internasional. Maskapai pelat merah tersebut diharapkan bisa meningkatkan kualitas layanan dan daya saingnya di tengah persaingan penerbangan global yang kian ketat.
Nathasya Zallianty
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Cek PIP 2026 Online Resmi Kemendikdasmen, Jadwal Cair dan Besaran Dana Lengkap
- Kamis, 15 Januari 2026
Program Indonesia Pintar Diperluas, Siswa TK Mulai Terima Bantuan 2026
- Kamis, 15 Januari 2026
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah
- Kamis, 15 Januari 2026
Menag Tekankan Isra Miraj Jadi Momentum Penguatan Spiritual Umat Beradab
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Cek Bansos Januari 2026 Pakai KTP, Ini Daftar Bantuan dan Jadwal Lengkapnya
- Kamis, 15 Januari 2026
Cek PIP 2026 Online Resmi Kemendikdasmen, Jadwal Cair dan Besaran Dana Lengkap
- Kamis, 15 Januari 2026
Program Indonesia Pintar Diperluas, Siswa TK Mulai Terima Bantuan 2026
- Kamis, 15 Januari 2026










