JAKARTA - Fenomena gerhana Matahari telah memikat manusia sejak berabad-abad lalu. Meski kini sains menjelaskan prosesnya dengan jelas, banyak mitos lama tentang gerhana masih dipercaya sebagian orang.
Pemahaman ilmiah menggantikan banyak gagasan kuno, tetapi beberapa cerita tetap bertahan karena menarik dan sering dikaitkan dengan peristiwa penting dalam sejarah manusia.
Mitos-Mitos Gerhana Matahari
1. Gerhana Menyebabkan Kebutaan
Banyak orang percaya bahwa melihat gerhana Matahari total bisa langsung membuat buta. Sebenarnya, cahaya korona Matahari selama totalitas sangat redup, jauh lebih lemah dibanding cahaya Matahari biasa.
Baca JugaPanduan Lengkap Menanam Wortel Mini di Rumah agar Panen Cepat dan Berkelanjutan
Kerusakan retina bisa terjadi hanya jika melihat piringan Matahari sebelum fase totalitas. Manusia pun secara alami memalingkan wajah atau memejamkan mata untuk melindungi diri.
2. Membahayakan Janin
Mitos lain menyebut gerhana berbahaya bagi ibu hamil dan janin. Sains menjelaskan bahwa radiasi dari korona sangat aman.
Neutrino, partikel dari inti Matahari, melewati Bumi setiap saat, baik saat gerhana maupun tidak. Tubuh manusia menerima triliunan neutrino tanpa efek berbahaya bagi janin.
3. Meracuni Makanan
Ada anggapan bahwa makanan akan terkontaminasi radiasi saat gerhana. Jika benar, radiasi tersebut juga seharusnya merusak makanan di dapur atau ladang sepanjang hari.
Faktanya, orang di lokasi sama bisa makan dengan aman, sehingga kepercayaan ini hanyalah kesalahpahaman.
4. Pertanda Buruk
Gerhana sering dikaitkan dengan bencana atau peristiwa negatif. Psikologi menyebut ini sebagai bias konfirmasi—otak cenderung mengingat hal yang sesuai dengan keyakinan, tetapi melupakan yang tidak relevan.
Sejarah mencatat peristiwa negatif bertepatan dengan gerhana, misalnya pada 763 SM di Asyur atau kematian Raja Henry I tahun 1133 M, sehingga mitos ini bertahan lama.
5. Tidak Terjadi di Kutub Utara atau Selatan
Banyak yang berpikir gerhana tidak terlihat di kutub. Padahal gerhana terakhir di Kutub Utara terjadi 20 Maret 2015, dan di Kutub Selatan pada 23 November 2003.
Secara astronomi, kutub sama seperti wilayah lain; gerhana bisa melintasi semua bagian Bumi tergantung jalur orbit Bulan dan Matahari.
6. Bulan Menjadi Hitam Pekat
Sebagian orang mengira Bulan menjadi hitam pekat saat totalitas. Faktanya, cahaya Bumi yang dipantulkan membuat permukaan Bulan terlihat samar, fenomena yang disebut Earthshine.
Korona Matahari yang terang juga membuat kontras cahaya Bulan tidak tampak gelap total bagi pengamat di Bumi.
7. Korona Matahari Selalu Terlihat
Korona Matahari tidak selalu tampak selama gerhana. Sejarah mencatat deskripsi korona pertama pada 1715 oleh Edmund Halley, meski sebelumnya catatan kuno jarang menyebutnya.
Faktor seperti siklus bintik Matahari 11 tahun memengaruhi seberapa jelas korona terlihat saat totalitas.
8. Tanda Peristiwa Besar Terjadi
Kepercayaan bahwa gerhana menandakan peristiwa penting bersifat non-ilmiah. Ini juga contoh bias konfirmasi, di mana manusia memaksakan hubungan sebab-akibat yang sebenarnya kebetulan semata.
Astrologi sering menggunakan fenomena ini untuk meramalkan masa depan, meski sains tidak menemukan bukti fisik yang mendukung.
9. Pertanda Dianugerahi Kesehatan
Mitos bahwa gerhana enam bulan sebelum atau sesudah ulang tahun memberikan kesehatan lebih baik juga keliru.
Tidak ada hubungan fisik antara gerhana dan kondisi tubuh manusia. Korelasi yang muncul hanya kebetulan dari populasi acak orang yang sehat.
Gerhana Matahari merupakan fenomena alam yang menakjubkan, tetapi tidak menimbulkan bahaya mistis. Dengan memahami fakta ilmiah, kita bisa menikmati keindahan gerhana tanpa takut pada mitos lama.
Mitos yang bertahan biasanya berasal dari keinginan manusia menghubungkan peristiwa langit dengan kehidupan sehari-hari. Kini, dengan sains, kita dapat membedakan antara fakta dan kepercayaan yang salah.
Mengetahui kebenaran tentang gerhana juga penting untuk pendidikan dan keselamatan, terutama bagi mereka yang ingin mengamati gerhana Matahari secara langsung.
Nathasya Zallianty
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
5 Inspirasi Tanaman Rambat Berbunga Lebat untuk Mempercantik Pagar Rumah dan Halaman
- Selasa, 03 Februari 2026
12 Ide Jualan Gorengan Keju Kekinian yang Laris Manis dan Mudah Untung
- Selasa, 03 Februari 2026
9 Ide Jualan Es Berbahan Tepung Modal Kecil yang Segar dan Mudah Laris
- Selasa, 03 Februari 2026
Mendagri Pimpin Rakornas 2026 Perkuat Sinergi Daerah Kawal Program Prioritas Presiden
- Selasa, 03 Februari 2026
Berita Lainnya
Tren Transportasi Umum Jakarta Januari 2026 Meningkat Cerminkan Perubahan Mobilitas Warga
- Selasa, 03 Februari 2026
Penjualan Tiket Kereta Api Lebaran Daop 8 Surabaya Tembus Puluhan Ribu Awal
- Selasa, 03 Februari 2026
Toyota Dan Subaru Kembangkan Paten Transmisi Manual Khusus Mobil Listrik Masa Depan
- Selasa, 03 Februari 2026
Mobil Listrik Terbaik Tahun 2026 Hadir Futuristik Dengan Performa Tangguh
- Selasa, 03 Februari 2026
Industri Otomotif Indonesia 2025 Cetak Rekor Ekspor Saat Penjualan Lokal Melemah
- Selasa, 03 Februari 2026













