Prediksi Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda Tanggal Ini Penjelasan Lengkap BRIN Muhammadiyah dan Pemerintah
- Selasa, 24 Februari 2026
JAKARTA - Perbedaan potensi tanggal Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 mulai menjadi perhatian publik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan Idul Fitri 1447 H berpotensi jatuh pada tanggal yang berbeda berdasarkan pendekatan kriteria yang digunakan.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menyebut banyak masyarakat menanyakan kapan tepatnya 1 Syawal 1447 H. Ia kemudian memaparkan sejumlah fakta astronomi yang menjadi dasar penentuan awal Syawal tahun ini.
Berdasarkan perhitungan astronomi, Idul Fitri 1447 H versi pemerintah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Perkiraan ini merujuk pada posisi hilal saat maghrib pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara.
Baca JugaStrategi Kolaborasi Baznas dan Dubes Palestina untuk Membantu Gaza Secara Efektif dan Berkelanjutan
Thomas menjelaskan, posisi hilal pada saat itu belum memenuhi kriteria MABIMS. Kriteria tersebut merupakan kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam menentukan visibilitas hilal.
Menurut kriteria MABIMS, hilal dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Parameter ini menjadi acuan resmi pemerintah dalam penetapan awal bulan Hijriah.
“Pada saat maghrib 19 Maret 2026 di Indonesia, tinggi bulan umumnya kurang dari 3 derajat dan elongasi juga belum mencapai 6,4 derajat,” ujar Thomas, Senin, 23 Februari 2026. Kondisi tersebut membuat hilal belum memenuhi syarat visibilitas di kawasan Asia Tenggara.
Ia menjelaskan, fenomena ini dipengaruhi konfigurasi posisi Bumi, Bulan, dan Matahari yang belum mendukung keterlihatan hilal. Tinggi hilal dan sudut elongasi yang sesuai justru terjadi di wilayah India, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika.
Meski demikian, Thomas menegaskan kepastian tanggal Lebaran tetap menunggu hasil Sidang Isbat. Sidang Isbat oleh Kementerian Agama dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026.
Perbedaan Kriteria KHGT dan Potensi 20 Maret 2026
Selain kriteria MABIMS, terdapat pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT. Menurut Thomas, posisi Bulan telah memenuhi kriteria KHGT karena ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
“Sedangkan menurut kriteria KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal), posisi Bulan telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru,” papar Thomas. Berdasarkan pendekatan tersebut, 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.
Perbedaan metode inilah yang berpotensi memunculkan perbedaan tanggal perayaan Lebaran 2026. Hal ini bukan pertama kali terjadi dalam sejarah penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.
Penetapan Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Ketetapan tersebut tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/2025.
Dalam maklumat itu dijelaskan, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC. Data astronomi tersebut menjadi dasar penetapan awal Syawal menurut Muhammadiyah.
Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24.00 UTC terdapat wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1. Parameter tersebut mensyaratkan tinggi Bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi Bulan minimal 8 derajat.
Wilayah yang memenuhi parameter itu berada pada koordinat lintang 64 derajat 59 menit 57,47 detik Lintang Utara dan bujur 42 derajat 03 menit 3,47 detik Bujur Timur. Tinggi Bulan tercatat +06 derajat 29 menit 20 detik dengan elongasi 08 derajat 00 menit 00 detik.
“Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026,” bunyi Maklumat Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah menetapkan Lebaran 2026 jatuh pada 20 Maret 2026.
Perbedaan antara estimasi pemerintah dan Muhammadiyah kembali membuka kemungkinan variasi tanggal perayaan. Meski begitu, masing-masing keputusan didasarkan pada metode dan parameter astronomi yang telah ditetapkan.
Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Lebaran 2026
Pemerintah telah menetapkan jadwal libur nasional dan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah melalui SKB 3 Menteri. Dalam keputusan tersebut, libur nasional Idul Fitri ditetapkan pada 21 dan 22 Maret 2026.
Sementara itu, cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah ditetapkan pada 20, 23, dan 24 Maret 2026. Penetapan ini memberikan rangkaian hari libur yang cukup panjang bagi masyarakat.
Berikut rincian tanggal merah Lebaran 2026 yang telah ditetapkan pemerintah. Jumat, 20 Maret 2026 merupakan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sabtu, 21 Maret 2026 ditetapkan sebagai hari libur nasional Idul Fitri 1447 Hijriah. Minggu, 22 Maret 2026 juga menjadi hari libur nasional Idul Fitri 1447 Hijriah.
Senin, 23 Maret 2026 ditetapkan sebagai cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah. Selasa, 24 Maret 2026 juga menjadi cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah.
Rangkaian tanggal merah tersebut memungkinkan masyarakat merencanakan mudik dan kegiatan keluarga dengan lebih matang. Meski terdapat potensi perbedaan penetapan 1 Syawal, jadwal libur nasional telah memiliki kepastian administratif.
Dengan adanya penjelasan BRIN, keputusan Muhammadiyah, serta jadwal resmi pemerintah, masyarakat kini memiliki gambaran lebih jelas mengenai Lebaran 2026. Kepastian akhir tetap menunggu Sidang Isbat, sementara berbagai pihak telah menyampaikan dasar perhitungan masing-masing secara terbuka dan ilmiah.
Nathasya Zallianty
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.


.jpg)


.jpg)
.jpg)

.jpg)