Emisi Karbon Penerbangan Eropa Resmi Lampaui Level Pra-Pandemi
- Senin, 11 Mei 2026
JAKARTA - Total emisi gas buang dari sektor penerbangan di kawasan Eropa konsisten mengalami peningkatan di tengah komitmen industri untuk mengurangi dampak lingkungan dan penggunaan armada yang lebih hemat energi.
Melalui laporan riset terkini, tingkat polusi udara dari industri ini telah melewati angka catatan sebelum masa pandemi yang dipicu oleh perkembangan pesat maskapai berbiaya rendah.
Berdasarkan data organisasi Transport & Environment (T&E) pada Jumat (8/5/2026), polusi karbon yang dihasilkan maskapai Ryanair mencapai 16,6 megaton (Mt) sepanjang tahun 2025.
Baca JugaPGEO Hemat Energi 90.502 MWh di 2025, Operasi Rendah Karbon Menguat
Jumlah tersebut hampir mengimbangi total emisi tahunan yang dihasilkan oleh satu negara seperti Kroasia.
Dengan total angkutan mencapai lebih dari 200 juta penumpang pada tahun lalu—meningkat dari 140 juta di tahun 2019—jejak emisi Ryanair saat ini 50 persen lebih besar dibandingkan kondisi sebelum pandemi.
Secara kumulatif, industri penerbangan di Eropa memproduksi 195 Mt emisi karbon dari seluruh keberangkatan tahun lalu, atau tumbuh 2 persen dari posisi sebelum krisis kesehatan global terjadi.
Walaupun Inggris dan Uni Eropa telah menjalankan skema perdagangan emisi (ETS), pihak T&E menganggap regulasi tersebut belum efektif menjangkau mayoritas polusi di udara.
Hal ini disebabkan aturan tersebut hanya mencakup rute-rute di dalam lingkup wilayah Eropa saja.
Kondisinya mengakibatkan penerbangan lintas benua dengan armada besar yang boros bahan bakar justru tidak terikat oleh kebijakan biaya karbon ini.
Perbedaan tersebut nampak pada beban biaya yang ditanggung perusahaan, di mana Ryanair membayar rata-rata 50 Euro per ton karbon, sementara Lufthansa hanya dibebankan sekitar 20 Euro.
Sebagai ilustrasi, jalur London-New York yang memproduksi hampir 1,4 juta ton emisi pada 2025 tercatat tidak dikenakan biaya pajak karbon sama sekali.
T&E meminta agar kebijakan biaya karbon diberlakukan bagi seluruh jadwal keberangkatan tanpa kecuali guna mempercepat penurunan polusi serta menambah pemasukan bagi negara.
Upaya tersebut diperkirakan bisa meningkatkan pendapatan Uni Eropa berkali-kali lipat pada 2030, yang dapat digunakan untuk pengembangan bahan bakar hijau serta penanganan masalah contrails.
Riset tersebut juga memaparkan bahwa biaya dari sistem karbon sebenarnya relatif kecil jika dikomparasikan dengan perubahan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga bahan bakar memberikan beban tambahan sekitar 90 Euro bagi tiap penumpang rute jauh, sedangkan kebijakan bahan bakar ramah lingkungan hanya menambah beban sekitar 3 Euro.
“Harga tiket naik karena ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil, bukan karena aturan lingkungan yang bertujuan untuk menjauhkan sektor ini dari bahan bakar tersebut,” kata Giacomo Miele, penulis analisis dari T&E.
“Tingkat emisi penerbangan yang mencapai rekor tertinggi adalah tanda nyata bahwa industri ini tidak berniat memperbaiki diri. Sudah waktunya untuk berhenti memberikan subsidi pada ketergantungan bahan bakar fosil dan mulai berinvestasi untuk masa depan sektor penerbangan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Pihak maskapai melalui juru bicara Ryanair memberikan pembelaan bahwa pertumbuhan emisi merupakan dampak logis dari status mereka sebagai maskapai dengan ekspansi paling cepat.
Manajemen mengklaim bahwa pertumbuhan ini didukung penggunaan pesawat generasi baru yang lebih hemat, sehingga rasio polusi per individu penumpang sebenarnya menurun.
Kegiatan operasional Ryanair juga disebut telah menggantikan peran perusahaan penerbangan lama yang memiliki tingkat polusi jauh lebih besar dan tidak efisien.
Ryanair berpendapat bahwa data emisi dalam skema ETS tidak sepenuhnya valid karena mengabaikan emisi dari maskapai lain yang mendapatkan pengecualian pajak.
Mereka memandang sistem ETS kurang adil karena hanya fokus pada penerbangan regional, sementara penerbangan jarak jauh yang paling mencemari justru tidak tersentuh aturan.
Ryanair meyakini jika seluruh tipe penerbangan dikalkulasi, jumlah emisi mereka masih di bawah perusahaan besar seperti Lufthansa, Air France/KLM, serta IAG.
Mereka juga menekankan bahwa perusahaan memiliki rasio emisi terendah di kategorinya, yakni berada pada angka 64 gram per penumpang untuk tiap kilometer perjalanan.
David Ilham
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Manchester United Incar Shea Charles Murah Untuk Gantikan Casemiro Musim Panas
- Jumat, 10 April 2026
Chelsea Tolak Real Madrid Demi Pertahankan Bek Muda Josh Acheampong Masa Depan
- Jumat, 10 April 2026
Liverpool Semakin Dekat Amankan Kontrak Baru Ibrahima Konate Di Anfield Musim Ini
- Jumat, 10 April 2026












