Jumat, 15 Mei 2026

Percepat Energi Terbarukan, 350 Indonesia Ingatkan Risiko Iklim

Percepat Energi Terbarukan, 350 Indonesia Ingatkan Risiko Iklim
Percepat Energi Terbarukan (FOTO: NET)

MALANG - Pengembangan energi terbarukan yang lamban dinilai memperburuk dampak krisis iklim yang kini dirasakan langsung oleh warga Indonesia.

Munculnya bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan cuaca ekstrem, disebut sebagai indikator nyata dari perubahan iklim yang terus meningkat.

Indonesia sebenarnya telah mengalami ribuan bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim sepanjang tahun lalu secara nasional.

Baca Juga

PGEO Hemat Energi 90.502 MWh di 2025, Operasi Rendah Karbon Menguat

Banjir besar di Sumatera menjadi contoh dampak serius ketika upaya pengurangan emisi dan transisi energi berjalan lambat sekarang.

Bencana akibat perubahan iklim diperkirakan semakin sering terjadi apabila Indonesia tidak segera mempercepat penggunaan energi terbarukan nasional.

"Peningkatan suhu global serta tingginya emisi karbon disebut memperbesar ancaman kerusakan lingkungan dan keselamatan masyarakat di berbagai daerah,” ungkap Jeri Asmoro, Digital Campaigner 350 Indonesia, Sabtu (9/05/2026).

Penundaan transisi energi tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dinilai membahayakan ketahanan energi nasional untuk jangka panjang.

Ketergantungan pada energi fosil menyebabkan Indonesia rentan terhadap guncangan ekonomi global, terutama fluktuasi harga minyak dunia yang tajam.

Subsidi bahan bakar minyak yang terus meningkat ini membebani anggaran negara sehingga mengurangi alokasi sektor pembangunan lainnya nasional.

Dana besar yang digunakan menjaga stabilitas energi seharusnya dapat dimanfaatkan memperkuat pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat luas.

Indonesia sebelumnya dikenal sebagai negara pengekspor minyak dan pernah tergabung dalam organisasi eksportir minyak dunia atau OPEC dahulu.

Namun sekarang berubah, karena kebutuhan konsumsi energi nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri sekarang,” tambahnya.

Sektor batu bara diprediksi akan mengalami kondisi serupa jika Indonesia tidak segera beralih ke energi terbarukan yang berkelanjutan.

Cadangan batu bara Indonesia tercatat hanya sekitar tiga persen dari total dunia, meskipun volume ekspornya menjadi salah satu yang terbesar secara global.

Beberapa negara tujuan ekspor batu bara justru memiliki cadangan energi lebih besar dibandingkan Indonesia saat ini.

"Jika kami terus bergantung pada ekspor energi fosil, dikhawatirkan semakin bergantung terhadap pasokan energi negara lain kedepannya,” tegasnya.

Di lain pihak, masyarakat mulai tertarik menggunakan energi terbarukan, seperti panel surya, untuk kebutuhan listrik rumah tangga.

Namun, kendala utama bagi mayoritas masyarakat saat ini adalah tingginya biaya instalasi serta kurangnya akses informasi.

"Dukungan pemerintah sangat penting memperluas penggunaan energi terbarukan agar literasi masyarakat berkembang lebih cepat nasional.Gerakan masyarakat sipil dinilai belum cukup apabila tidak dibarengi kebijakan pemerintah yang serius mendukung transisi energi berkelanjutan Indonesia,” pungkasnya.

David Ilham

David Ilham

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Dilema ESG INDY 2025: Emisi Berhasil Turun Namun Beban Karbon Naik

Dilema ESG INDY 2025: Emisi Berhasil Turun Namun Beban Karbon Naik

PGE Perkuat Panas Bumi Sebagai Pilar Utama Transisi Energi Rendah Karbon

PGE Perkuat Panas Bumi Sebagai Pilar Utama Transisi Energi Rendah Karbon

Efisiensi PGEO Meningkat Tajam di 2025, Dukung Target NZE Indonesia

Efisiensi PGEO Meningkat Tajam di 2025, Dukung Target NZE Indonesia

Inovasi PLTS Off-Grid PLN Indonesia Power Sasar Pasar Karbon Global

Inovasi PLTS Off-Grid PLN Indonesia Power Sasar Pasar Karbon Global

Prabowo: Kenaikan Gaji Hakim Upaya Wujudkan Keadilan bagi Rakyat

Prabowo: Kenaikan Gaji Hakim Upaya Wujudkan Keadilan bagi Rakyat