Kawasan IMIP Percepat Transisi Energi Melalui PLTS Kapasitas 200 MWp

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 12 Mei 2026
Kawasan IMIP Percepat Transisi Energi Melalui PLTS Kapasitas 200 MWp
Kembangkan teknologi hijau (FOTO: NET)

MOROWALI - Demi menyokong program Pemerintah Indonesia dalam meraih Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat, jajaran perusahaan di wilayah Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) secara konsisten menjalankan prinsip keberlanjutan.

Upaya tersebut dilakukan dengan mengedepankan efisiensi sumber daya serta mengurangi dampak terhadap lingkungan pada tiap proses produksi, terutama lewat transisi energi fosil menuju energi terbarukan (EBT).

PT IMIP, sebagai pengelola kawasan industri mineral yang terintegrasi, terus mendorong pemakaian teknologi hijau lewat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Sekarang ini, salah satu tenant di area tersebut, yakni PT Sumber Energi Surya Morowali (Sesmo), sedang bersiap mendirikan PLTS berkapasitas hingga 200 MWp.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, memaparkan bahwa PLTS menghasilkan listrik melalui tenaga surya tanpa melewati proses pembakaran bahan bakar fosil.

Kondisi tersebut menjadikan emisi karbon operasionalnya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga diesel maupun batu bara.

Di samping itu, inisiatif ini merupakan langkah dalam merespons kebijakan pemerintah guna mempercepat penggunaan energi bersih.

“Pembangunan PLTS di PT Sesmo dengan luas lahan 224 ha, berkapasitas 200 MWp dan penyimpanan baterai 80 Mw, untuk mendukung teknologi energi bersih menuju industri yang berkelanjutan,” kata Yulius Susanto, Senin (11/5/2026).

Sarana PLTS ini ditempatkan sebagai sumber energi tambahan guna mengikis ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis batu bara secara bertahap.

Listrik yang dihasilkan bakal dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik serta perkantoran milik PT Sesmo.

Melalui skema penggunaan mandiri serta penyaluran surplus, penggunaan energi surya diharapkan menjadi lebih maksimal sekaligus menyokong stabilitas kelistrikan di area IMIP.

Penggunaan energi surya ini diperkirakan dapat memotong konsumsi batu bara hingga angka puluhan ribu ton tiap tahunnya, sekaligus mengurangi emisi sulfur dioksida serta nitrogen oksida.

Tahapan ini sekaligus memperkokoh kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan sebagai salah satu indikator daya saing pada pasar global.

Ke depannya, perluasan PLTS di wilayah IMIP diproyeksikan bakal terus tumbuh sejalan dengan kemajuan teknologi penyimpanan energi.

Peningkatan porsi energi terbarukan ini diharapkan dapat membawa struktur industri menuju sistem dengan tingkat karbon yang lebih rendah.

Sebagai catatan, sejumlah tenant di kawasan IMIP sebelumnya sudah menerapkan teknologi yang serupa, seperti halnya PLTS kanal Fatufia (1,27 MWp), PLTS Atap PT DSI (65,89 MWp), serta rencana konstruksi PLTS PT QMB New Energy Materials (6 MWp).

Selain itu, terdapat pula pengembangan PLTU Co-Generation yang dikelola oleh pihak PT DSI dan PT HYNC.

“PLTS bukan sekadar pembangkit listrik alternatif, tetapi instrumen strategis transisi energi modern. Bagi industri, PLTS penting bukan hanya karena “hijau”, tetapi karena energi bersih mulai menjadi syarat ekonomi masa depan. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam efisiensi, investasi, dan akses pasar internasional,” tegas Yulius Susanto.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua