Bahlil Dorong Pengusaha Daerah Kelola Blok Migas Baru
MIMIKA - Pemerintah terus mendorong langkah percepatan menuju ketahanan dan swasembada energi di tengah meningkatnya kebutuhan domestik serta situasi geopolitik global yang memengaruhi pasokan dunia.
Strategi ini diwujudkan melalui akselerasi eksplorasi serta pengembangan sektor minyak dan gas bumi demi mengejar target produksi nasional antara 900 ribu sampai 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2029.
Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral membuka lebar kesempatan investasi lewat lelang sejumlah Wilayah Kerja Migas yang potensial sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan cadangan energi nasional.
“Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh (ikut). Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting kalian punya teknologi, kalian punya uang, kalian punya keseriusan. Silahkan mengelola hasil yang ada untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” ujar Bahlil dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Kamis (28/5/2026).
Kementerian ESDM tercatat telah memetakan 118 Wilayah Kerja (WK) Migas potensial sampai dengan bulan Mei 2026.
Secara rinci, terdapat 43 wilayah dalam proses studi bersama, 50 wilayah masuk tahap penawaran studi serta akuisisi data baru, dan 25 wilayah telah resmi ditandatangani termasuk 8 WK dari lelang tahun 2025 yang prosesnya disaksikan oleh Menteri ESDM.
Nama kedelapan wilayah kerja tersebut meliputi Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Southwest Andaman, Barong, dan Nawasena.
WK Gagah berada di daratan Sumatera Selatan dengan cadangan potensial mencapai 173 juta barel minyak dan 1,1 Trillion Cubic Feet (TCF) gas, serta nilai komitmen pasti USD4,25 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
WK Bintuni berada di wilayah daratan dan perairan Papua Barat yang menyimpan potensi 2,1 TCF gas, nilai komitmen pasti sebesar USD16,55 juta, serta bonus tanda tangan senilai USD1,25 juta.
WK Karunia terletak di daratan dan perairan Sumatera Utara serta Riau dengan potensi 82 juta barel minyak dan 0,13 TCF gas, komitmen pasti senilai USD9,9 juta, dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
WK Drawa berlokasi di perairan Papua Barat dan Papua Barat Daya dengan kapasitas potensi 0,36 TCF gas, total komitmen pasti sebesar USD6,45 juta, serta bonus tanda tangan USD200 ribu.
WK Jalu berada di perairan Laut Andaman dengan potensi simpanan 2,9 TCF gas, total komitmen pasti sebesar USD6,6 juta, dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
WK Southwest Andaman di lepas pantai Laut Andaman menyimpan potensi gas sebanyak 3 TCF, dengan komitmen pasti mencapai USD8,2 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
WK Barong berlokasi di perairan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan dengan potensi sebesar 2,9 TCF gas, total nilai komitmen pasti USD2,5 juta, serta bonus tanda tangan USD200 ribu.
WK Nawasena yang mencakup wilayah daratan dan perairan Jawa Timur memiliki potensi gas sebesar 1,3 TCF, dengan komitmen pasti USD3,5 juta dan bonus tanda tangan USD300 ribu.
Secara akumulatif, delapan wilayah kerja ini menghimpun komitmen pasti senilai USD57,95 juta dan bonus tanda tangan USD3,15 juta, dengan estimasi total sumber daya mencapai 255 juta barel minyak serta 13,79 TCF gas.
Menteri ESDM menilai penandatanganan kerja sama ini merefleksikan tingginya ketertarikan para investor terhadap sektor hulu migas di Indonesia.
Masuknya investasi ini diproyeksikan mampu menjadi pendorong utama penemuan cadangan baru, menaikkan angka produksi nasional, menyumbang pendapatan negara, hingga menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Oleh sebab itu, Menteri ESDM meminta pelaku usaha lokal di daerah diberikan ruang penawaran yang setara untuk menjadi kontraktor, dengan syarat mutlak harus kompeten dan berkemampuan di sektor migas. “Agar pengusaha-pengusaha daerah itu harus dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta semua. Jadikanlah orang daerah itu menjadi tuan di negerinya sendiri selama (mereka) profesional,” ujarnya.
Menteri ESDM juga menggarisbawahi krusialnya sinergi antara kementerian, SKK Migas, dan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama agar kesepakatan berjalan sesuai aturan, selesai tepat waktu, dan mendongkrak produksi migas.
“Saya minta jangan lagi diperlambat investor di KKKS. Di hulu migas ini resikonya besar, jangan dipersulit, harus dipermudah. Tapi kalau pengusahanya sudah kita bantu, sudah sesuai aturan, tapi dia dalam implementasinya masih aneh-aneh, artinya perlu diluruskan. Berarti itu yang tidak mau melakukan kerja sama. Kami butuh kerja sama yang baik, kami butuh kolaborasi yang baik untuk saling mendukung agar apa yang menjadi mimpi cita-cita dan program kami, bisa kami wujudkan bersama,” pungkasnya.