Indonesia Jadi Target Utama Kredit Hijau USD 4 Miliar dari HSBC
JAKARTA – HSBC Tiongkok resmi meluncurkan fasilitas kredit senilai USD 4 miliar yang ditujukan untuk mendukung ekspansi global perusahaan di sektor energi rendah karbon dan energi bersih asal Tiongkok.
Indonesia disebut menjadi salah satu target utama dalam penyaluran investasi dari fasilitas kredit hijau tersebut.
Layanan pembiayaan yang diberi nama Sustainability and Transition Credit Facility ini difokuskan untuk mendukung sektor kendaraan listrik, energi terbarukan, kecerdasan buatan (AI), hingga pusat data.
Langkah ini diklaim mampu membuka peluang masuknya investasi hijau serta teknologi energi bersih ke Indonesia maupun kawasan ASEAN.
Pihak perbankan menyatakan bahwa fasilitas kredit tersebut hadir di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan transisi energi di kawasan.
Menurut perusahaan tersebut, Indonesia memerlukan pendanaan sekitar USD 97 miliar guna mencapai target iklim tahun 2030 dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Momentum ekspansi investasi hijau ini diperkuat oleh implementasi ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang telah ditandatangani pada Oktober 2025.
Perjanjian ini bertujuan memperluas kerja sama perdagangan ASEAN-Tiongkok ke sektor ekonomi digital, ekonomi hijau, dan rantai pasok.
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan energi bersih di Asia Tenggara.
"Transisi energi di Indonesia merupakan salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dan skala pembiayaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target 2030 sangat signifikan. HSBC berada pada posisi untuk menghubungkan ambisi Indonesia dengan perusahaan energi bersih kelas dunia, termasuk dari Tiongkok," ujarnya dalam keterangannya, Kamis 28 Mei 2026.
Pihak lembaga keuangan menilai ekspansi global perusahaan energi bersih asal Tiongkok akan terus meningkat seiring dengan permintaan dunia terhadap teknologi rendah karbon.
Saat ini, Tiongkok menguasai sekitar 47 persen ekspor teknologi bersih global serta mendominasi pasar panel surya dan baterai dunia.
Selain itu, penjualan kendaraan listrik global diprediksi mencapai 26 juta unit pada tahun 2026.
Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi digital dan teknologi AI mendorong kebutuhan listrik pusat data global yang diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 945 Terrawatt hour (TWh) pada tahun 2030.
Berdasarkan data yang dihimpun HSBC, peluang investasi energi hijau di Indonesia pun semakin besar setelah pemerintah menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025.
Dalam dokumen tersebut, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42.569 Megawatt (MW) hingga tahun 2034, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan target sebelumnya.
Lembaga keuangan tersebut mengungkapkan bahwa fasilitas kredit ini akan memberikan tambahan limit pembiayaan serta mempercepat proses persetujuan kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, Natalie Blyth, menyatakan bahwa perusahaan energi rendah karbon asal Tiongkok kini menjadi pemain penting dalam transformasi energi global.
"Tiongkok merupakan rumah bagi sejumlah perusahaan rendah karbon paling dinamis di dunia. Perusahaan-perusahaan ini menetapkan tolok ukur baru dalam manufaktur kelas atas, sekaligus memainkan peran penting dalam mentransformasi ekosistem transisi energi," ucapnya.
Natalie menambahkan, fasilitas kredit tersebut diharapkan dapat membantu menumbuhkan peluang perusahaan di tingkat global.