Sinergi PHE, PGN, dan Pupuk Indonesia Kembangkan Teknologi CCS

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 29 Mei 2026
Sinergi PHE, PGN, dan Pupuk Indonesia Kembangkan Teknologi CCS
PGN Berkolaborasi Kembangkan Amonia Rendah Karbon Lewat Studi Ekosistem CCS (FOTO: NET)

JAKARTA - Langkah nyata dalam mempercepat pembangunan industri yang ramah lingkungan dan rendah emisi di tanah air kini terus dipacu.

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero) secara resmi telah menyepakati sebuah Joint Study Agreement (JSA).

Kesepakatan bersama ini ditujukan untuk mengeksplorasi potensi implementasi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam menyokong pembuatan amonia rendah karbon.

Prosesi penandatanganan kemitraan strategis tersebut dilangsungkan di sela-sela perhelatan Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 yang bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada Kamis (21/5/2026).

Sinergi antarsektor ini dipandang sebagai sebuah langkah yang sangat krusial dalam menyusun rantai nilai dekarbonisasi untuk sektor industri di Indonesia.

Melalui skema ini, gas karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh pabrik amonia milik Pupuk Indonesia beserta anak usahanya akan dihimpun, lalu dialirkan dan dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan yang berada di area operasional Pertamina.

Adapun pihak yang menandatangani perjanjian ini adalah Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro, PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Hery Murahmanta, serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia Jamsaton Nababan.

Momen bersejarah ini juga turut disaksikan secara langsung oleh VP Business Support Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Firera, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, serta Direktur Utama PHE Awang Lazuardi.

Lewat pengkajian bersama ini, seluruh pihak terlibat bakal memetakan peluang pengadopsian teknologi CCS untuk melahirkan produk amonia yang lebih hijau sebagai bagian dari upaya mereduksi emisi karbon dan menyukseskan peralihan energi.

Kerja sama ini dirancang untuk menyisir seluruh lini proses CCS, mulai dari tahap penangkapan gas buang CO2, proses distribusi, hingga tahap akhir berupa penginjeksian ke formasi geologi di wilayah kerja milik Pertamina.

Fokus kajian juga diarahkan pada optimalisasi sarana produksi amonia rendah karbon pada fasilitas-fasilitas produksi yang sudah dioperasikan oleh Pupuk Indonesia grup.

Sisa gas CO2 dari operasional pabrik tersebut nantinya dianalisis untuk didistribusikan ke sejumlah titik penyimpanan potensial yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, memberikan pandangan bahwa proyek bersama ini merupakan batu loncatan yang amat penting dalam mewujudkan ekosistem CCS yang saling terintegrasi di tanah air.

“Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Hana Timoti memaparkan bahwa pemanfaatan CCS dalam pembuatan amonia rendah karbon menjadi bagian dari peta jalan untuk memperlebar serapan teknologi bersih di sektor manufaktur nasional.

“Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global,” katanya.

Melalui perwujudan kolaborasi ini, PHE berparalel dengan para mitranya menaruh harapan besar agar komersialisasi teknologi CCS dapat berjalan lebih cepat sebagai bagian dari ekspansi bisnis hijau di Indonesia sekaligus memperkokoh posisi negara dalam peta energi berkelanjutan di kawasan regional.

Guna melengkapi komitmen pada aspek keberlanjutan, PHE juga menegaskan kesiapannya untuk senantiasa menakhodai lini bisnis hulu migas dengan berpijak pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Hal tersebut juga diimbangi dengan pemberlakuan kebijakan Zero Tolerance on Bribery secara ketat lewat penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah tersertifikasi ISO 37001:2016.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua