Produksi Amonia PAU 737 Ribu Ton Picu Emisi 1,2 Juta Ton

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 02 Juni 2026
Produksi Amonia PAU 737 Ribu Ton Picu Emisi 1,2 Juta Ton
Diskusi panel bertajuk "Clean Ammonia Development in Indonesia: Challenges and Opportunities" yang digelar di Paviliun Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Di balik berbagai apresiasi lingkungan yang diterima, operasional pabrik Banggai Ammonia Plant milik PT Panca Amara Utama (PAU) ternyata menghasilkan emisi karbon dalam skala besar.

Berdasarkan Laporan Tahunan dan Sustainability Report PT ESSA Industries Indonesia Tbk periode 2024–2025, pabrik yang beroperasi di Desa Uso, Kabupaten Banggai, ini memproduksi amonia menggunakan gas alam dari lapangan Senoro-Toili.

Pada tahun 2024, volume produksi tercatat mencapai 737.502 metrik ton, sedikit di bawah angka tahun sebelumnya yang sebesar 739.220 metrik ton.

Mengingat kapasitas desain pabrik berkisar antara 650.000 hingga 700.000 metrik ton per tahun, tingkat utilisasi fasilitas ini sering kali melampaui 100 persen.

Namun, capaian produksi yang tinggi ini dibarengi dengan dampak lingkungan yang signifikan.

Masih Berstatus Grey Ammonia PAU hingga kini masih memproduksi grey ammonia melalui proses Steam Methane Reforming (SMR) dan sintesis Haber-Bosch.

Dalam metode ini, gas alam diolah untuk menghasilkan hidrogen yang kemudian disintesis menjadi amonia, dengan karbon dioksida (CO?) sebagai produk sampingan utama.

Meski perusahaan telah menerapkan teknologi KBR PurifierPlus™ untuk meningkatkan efisiensi, inovasi tersebut tidak serta-merta melenyapkan emisi karbon yang timbul dari proses produksi.

Emisi Karbon Tembus 1,23 Juta Ton per Tahun Data Sustainability Report ESSA mencatat total emisi gas rumah kaca Banggai Ammonia Plant pada tahun 2025 mencapai 1.233.814,51 ton CO? equivalent (tCO?e).

Sebanyak 99,98 persen di antaranya merupakan emisi Scope 1, yakni emisi langsung dari aktivitas produksi perusahaan.

Angka yang stabil dan tinggi ini menempatkan industri grey ammonia sebagai sektor dengan intensitas karbon yang sangat besar karena ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Janji Transisi Masih Menunggu PAU dan ESSA sebenarnya telah merencanakan transisi ke blue ammonia melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

Perusahaan menargetkan produksi mayoritas blue ammonia dimulai akhir 2027, dengan injeksi CO? ke penyimpanan bawah tanah direncanakan pada 2030.

Namun, karena fasilitas tersebut belum beroperasi, sebagian besar produksi saat ini masih berupa grey ammonia dengan emisi tinggi.

Banggai Ammonia Plant memang berperan penting dalam industri hilir gas nasional dan penyerapan tenaga kerja di Sulawesi Tengah.

Kendati demikian, fakta bahwa operasional pabrik menyumbang lebih dari satu juta ton emisi karbon per tahun memicu pertanyaan kritis.

Seberapa cepat transisi menuju blue ammonia dapat diwujudkan, dan bagaimana dampak jangka panjangnya terhadap kekayaan pesisir serta biodiversitas kawasan Banggai bagi generasi mendatang? Di tengah target nasional menuju net zero emission, transparansi mengenai realisasi dekarbonisasi industri besar menjadi hal yang sangat dinantikan publik.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua