Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Cuan Besar tapi Rekor Emisi Karbon

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 09 Juni 2026
Sisi Gelap Piala Dunia 2026: Cuan Besar tapi Rekor Emisi Karbon
Trofi Piala Dunia (FOTO: NET)

JAKARTA - Sejumlah ahli lingkungan mengungkapkan bahwa turnamen sepak bola terakbar musim panas ini akan menghasilkan laba finansial paling tinggi sepanjang sejarah. Namun di waktu yang sama, kompetisi tersebut juga diperkirakan memecahkan rekor baru sebagai ajang olahraga yang menghasilkan polusi terbesar bagi planet ini.

"Berbeda dengan Olimpiade, di mana jejak karbon mereka terus berkurang dalam beberapa pelaksanaan terakhir, kondisi pada Piala Dunia pria FIFA justru terbalik total," kata David Gogishvili, seorang ahli geografi di Universitas Lausanne (Unil), dikutip dari Phys, Jumat (22/5/2026).

Edisi kali ini menandai momen perdana kompetisi yang diikuti oleh 48 negara peserta serta dilangsungkan di tiga negara berbeda, meliputi Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Walaupun menjanjikan pendapatan finansial yang masif, hasil studi dari Unil mengindikasikan bahwa perhelatan ini bakal meninggalkan jejak karbon paling tinggi dalam sejarah olahraga dunia. Total emisi gas buang (CO2) diprediksi menyentuh angka 5 sampai 9 juta ton, jumlah yang melonjak tajam dibanding Olimpiade Paris 2024 (1,75 juta ton), Piala Dunia Rusia 2018 (2,17 juta ton), ataupun Piala Dunia Qatar 2022 (3,17 juta ton).

Faktor mendasar dari tingginya polusi tersebut ialah jarak geografis antar-kota penyelenggara yang sangat jauh, contohnya rute Miami menuju Vancouver yang membentang hingga 4.500 kilometer. Kondisi ini memperburuk pencemaran udara akibat mobilitas transportasi udara yang dimanfaatkan oleh para skuad tim, penyelenggara, awak media, hingga lebih dari lima juta fans.

Sebagai ilustrasi, skuad Bosnia dan Herzegovina mesti menempuh perjalanan sejauh 5.040 kilometer sekadar untuk melakoni fase grup di Toronto, Los Angeles, dan Seattle.

Pimpinan tertinggi FIFA, Gianni Infantino, pada waktu sebelumnya pernah mengobral janji untuk menekan tingkat polusi dari ajang empat tahunan ini. Akan tetapi, seusai mendapat teguran keras dari Komisi Keadilan Swiss (CSL) pada Juni 2023 akibat klaim "netral karbon" pada Piala Dunia Qatar 2022 yang terbukti palsu, otoritas sepak bola dunia tersebut kini tidak memberikan garansi apa pun mengenai konsekuensi bagi alam.

Sejumlah pengamat merekomendasikan pembatasan volume turnamen guna meminimalisasi efek destruktif, meniru langkah yang diterapkan oleh Komite Olimpiade Internasional. Kendati demikian, FIFA malah memperluas cakupan kompetisi tersebut. Mengacu pada data New Weather Institute tahun 2025, satu laga berskala internasional mempunyai efek kerusakan iklim 26 hingga 42 kali lipat lebih masif ketimbang kompetisi domestik.

"Satu pertandingan saja di babak final Piala Dunia pria menghasilkan 44.000 hingga 72,000 ton karbon," kata para penulis laporan tersebut dari lembaga Scientists for Global Responsibility di Inggris.

"Nafsu FIFA yang tidak pernah kenyang untuk terus memperbesar turnamen menyebabkan jumlah pertandingan semakin banyak, dan mau tidak mau membuat makin banyak atlet, makin banyak suporter, makin banyak hotel yang harus dibangun, makin banyak penerbangan pesawat, ini seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya," kata Gogishvili.

Gelombang kecaman terhadap badan sepak bola dunia tersebut kian deras menyusul agenda Piala Dunia 2030 yang bakal digelar melintasi tiga benua serta Piala Dunia 2034 di Arab Saudi yang disokong oleh perusahaan minyak raksasa, Aramco.

"Tampaknya, sikap FIFA yang pura-pura tidak tahu dan tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan akan terus berlanjut," tulis Gilles Pache, profesor di Universitas Aix-Marseille, dalam jurnal Journal of Management Research tahun 2024.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua