Indramayu Kembangkan Industri Petrokimia demi Lepas Ketergantungan Migas
INDRAMAYU - Pemerintah Kabupaten Indramayu mulai memacu sektor industri petrokimia sebagai pilar ekonomi baru guna mengurangi ketergantungan daerah pada minyak dan gas bumi.
Langkah tersebut selaras dengan dimulainya konstruksi Proyek Polypropylene Plant Balongan (PPB) oleh perusahaan terkait yang diharapkan dapat memperkuat rantai industri petrokimia nasional serta memicu tumbuhnya industri hilir di wilayah Balongan.
Bupati Indramayu Lucky Hakim menyatakan bahwa penanaman modal di sektor petrokimia sangat penting bagi diversifikasi ekonomi kawasan tersebut.
Selama waktu ini, perekonomian Indramayu sangat bersandar pada sektor migas akibat keberadaan kilang minyak Balongan.
Sebab itu, kehadiran industri petrokimia dianggap sanggup memperluas dasar ekonomi dan menciptakan sumber pertumbuhan anyar.
“Investasi seperti ini diharapkan tidak hanya memperkuat sektor industri, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal,” kata Lucky, Kamis (25/6/2026).
Presiden Direktur dari Sumbernya Permono Avianto mengungkapkan bahwa proyek itu merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menaikkan kapasitas produksi serta memperkukuh industri petrokimia di dalam negeri.
Menurutnya, penambahan kapasitas produksi tersebut diharapkan mampu memicu perkembangan industri pendukung dan hilir yang memakai produk petrokimia sebagai bahan baku utama.
“Ini momen penting bagi perusahaan karena proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi dan mendukung pengembangan industri yang lebih luas,” ujarnya.
Direktur Utama dari Sumbernya Sukriyanto berpendapat bahwa proyek ini bisa menjadi tahapan awal pengembangan ekosistem industri petrokimia yang lebih masif di Balongan.
Ia menambahkan bahwa penyatuan industri hulu dan hilir dalam satu area berpeluang meningkatkan efisiensi serta daya saing industri nasional.
Namun, besarnya modal di sektor ini tetap menyisakan tantangan bagi pemerintah setempat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan suatu proyek industri tidak semata-mata dilihat dari nominal investasinya, melainkan juga dari kecakapannya menghasilkan dampak berganda bagi ekonomi setempat.
“Selama ini struktur ekonomi Indramayu masih didominasi sektor primer dan energi, terutama migas serta pertanian. Karena itu, pengembangan industri pengolahan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi sektor migas,” kata Sukriyanto.
Lucky menambahkan bahwa proyek PPB dapat menjadi pembuka bagi penanaman modal berkelanjutan di sektor hilir petrokimia.
“Jika ekosistem industri tersebut berkembang, Balongan berpeluang tumbuh menjadi salah satu pusat industri petrokimia di pantai utara Jawa yang tidak hanya menopang kebutuhan industri nasional, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indramayu dalam jangka panjang,” ujar Lucky.