PBB Ungkap Strategi Global Hapus Ketergantungan Bahan Bakar Fosil
JAKARTA - Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memaparkan bahwa sejak 2010, harga teknologi surya telah menyusut hampir 90 persen, tenaga angin darat merosot lebih dari 70 persen, dan penyimpanan baterai berkurang sebesar 95 persen.
Penggunaan energi terbarukan telah sukses mencegah emisi karbon dioksida tahunan melebihi total emisi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, tutur Guterres, seraya menuturkan bahwa pendanaan energi bersih kini dua kali lipat lebih besar dibanding bahan bakar fosil.
“Kabar baiknya adalah – tidak seperti setiap krisis energi di masa lalu – kami sekarang memiliki jalan keluar yang jelas, jalan keluar yang bersih,” kata Sekretaris Jenderal.
“Tidak ada embargo terhadap sinar matahari dan tidak ada blokade terhadap angin.”
Guna memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil, Guterres merinci tujuh poin krusial.
Emisi wajib mencapai puncaknya sesegera mungkin dan menurun drastis dalam dekade ini demi mencapai target nol bersih pada 2050.
Kelompok negara kaya G20 harus menjadi garda depan dalam upaya ini karena memegang tanggung jawab atas 80 persen emisi dunia, terang Guterres.
Rencana ambisius tersebut mencakup Seruan Aksi global mengenai Metana untuk menekan emisi gas yang memerangkap panas sekitar 80 kali lipat lebih tinggi daripada karbon dioksida.
“Dunia telah menghapus bensin bertimbal. Kami telah menghilangkan bahan kimia perusak ozon. Polusi metana harus menjadi yang berikutnya,” ujarnya.
Inisiatif energi bersih harus didorong, sementara pemberian subsidi pemerintah untuk proyek bahan bakar fosil baru perlu dihentikan.
Tercatat delapan perusahaan minyak dan gas terbesar mendapatkan laba tambahan sebesar 6,5 miliar dolar AS hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Guterres mendorong pemerintah untuk memajaki mereka demi membantu masyarakat rentan serta memacu transisi ke energi bersih yang lebih ekonomis.
Setiap perusahaan AI raksasa wajib mengukur serta mengumumkan kepada publik dampak lingkungan dari pusat data mereka, seperti jejak karbon, air, dan lahan, serta berkomitmen memanfaatkan energi terbarukan paling lambat 2030.
Saat ini, pusat data AI menyedot listrik lebih banyak dari kebanyakan negara, sehingga sudah saatnya untuk bersikap jujur, tegas Sekretaris Jenderal PBB.
Menjelang 2030, pusat data AI berisiko menghabiskan air yang setara dengan kebutuhan dasar 1,3 miliar jiwa penduduk Afrika sub-Sahara selama setahun penuh.
Tidak boleh ada lagi ekstraksi tanpa pembangunan, Guterres menyerukan bantuan lebih luas demi transisi energi yang berpihak pada pekerja dan negara berkembang.
Guterres menyoroti potensi pinjaman tambahan 600-800 miliar dolar AS dari bank pembangunan multilateral yang perlu dioptimalkan untuk infrastruktur dan adaptasi iklim.
Negara maju harus memenuhi komitmen pendanaan, termasuk 300 miliar dolar AS bagi negara berkembang untuk memobilisasi 1,3 triliun dolar AS setiap tahun pada 2035.
Terakhir, Sekretaris Jenderal PBB meminta dukungan bagi sains sebagai fondasi kebenaran dan sistem peringatan dini, serta upaya melawan kebohongan iklim.
Penyebaran disinformasi sengaja dilakukan untuk menghambat tindakan iklim, memperkuat kepentingan tertentu, dan merusak kepercayaan publik.
Para aktivis HAM serta jurnalis yang meliput isu iklim dan lingkungan harus dilindungi, serta kepercayaan terhadap fakta dan lembaga harus diperkokoh.