JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan ini.
Di tengah dinamika global yang masih memanas, mata uang Garuda diperkirakan belum mampu keluar dari tekanan. Fluktuasi diprediksi tetap terjadi sepanjang perdagangan, namun arah pergerakan cenderung melemah hingga penutupan pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi fluktuatif pada perdagangan hari ini, Senin, namun akan ditutup melemah di rentang Rp17.000 – Rp17.040 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang masih kuat dari faktor eksternal maupun domestik yang memengaruhi pasar keuangan.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, Kamis, nilai tukar rupiah tercatat melemah 25 poin atau 0,15% ke Rp17.008 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melonjak 0,49% menuju level 100,13.
Penguatan dolar AS jadi tekanan utama rupiah
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan greenback didorong sikap Donald Trump yang menyatakan militer AS akan terus menggempur target energi dan minyak Iran dalam beberapa ke depan.
“Pernyataan tersebut menandai pembalikan dari komentar sebelumnya, ketika Trump mengatakan AS dapat meninggalkan Iran dalam jangka waktu yang sama, bahkan tanpa perjanjian formal,” ujar Ibrahim, Kamis.
Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Ketika risiko meningkat, investor cenderung beralih ke dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Penguatan indeks dolar AS ke level 100,13 menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal masih cukup besar. Hal ini membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas dalam jangka pendek.
Sentimen domestik turut membebani pergerakan rupiah
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati proyeksi pelebaran defisit APBN 2026. Pemerintah memperkirakan defisit bisa membengkak hingga 2,9% terhadap PDB dari target awal 2,68%, menyusul kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang berpotensi konsisten di level US$100 per barel.
Ibrahim menambahkan, setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel berisiko menambah beban defisit hingga Rp6 triliun. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi stabilitas fiskal dalam jangka menengah.
Pemerintah bahkan memproyeksikan tambahan anggaran subsidi energi hingga Rp100 triliun sebagai bantalan agar harga BBM domestik tidak naik. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat, meskipun memberikan tekanan pada anggaran negara.
Strategi pemerintah menghadapi tekanan fiskal
“Pemerintah akan terus melakukan penghematan guna mengantisipasi harga minyak terus bertengger di US$100 per barel sepanjang tahun,” ucap Ibrahim.
Adapun beberapa cara yang ditempuh pemerintah, antara lain penghematan belanja kementerian/lembaga hingga tiga tahap sampai dengan pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) guna menambal defisit.
Langkah-langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan fiskal di tengah tekanan eksternal. Namun demikian, pasar tetap mencermati efektivitas kebijakan tersebut dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Kondisi fiskal yang terjaga akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian global
Selain faktor domestik, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, serta kebijakan ekonomi negara maju terus menjadi perhatian investor.
Situasi ini membuat pergerakan rupiah cenderung volatil. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar biasanya lebih berhati-hati dan cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Penguatan dolar AS juga menjadi indikator bahwa aliran dana global masih mengarah ke aset yang dianggap lebih aman. Hal ini berdampak langsung pada pelemahan mata uang emerging market.
Proyeksi pergerakan rupiah hari ini
Untuk perdagangan Senin Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp17.000 hingga Rp17.040 per dolar AS.
Rentang tersebut mencerminkan adanya tekanan yang masih berlanjut, meskipun pergerakan intraday tetap berpotensi mengalami fluktuasi. Investor diharapkan tetap waspada terhadap perubahan sentimen yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik, rupiah diperkirakan masih menghadapi tantangan dalam jangka pendek. Stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi eksternal dan kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah.
Pergerakan hari ini menjadi gambaran bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian terhadap berbagai dinamika yang terjadi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.