JAKARTA - Pengamat otomotif senior Yannes Pasaribu menilai bahwa kapasitas baterai motor listrik Emmo JVX GT kurang memadai untuk mendukung mobilitas program Makan Bergizi Gratis.
Kapasitas daya yang tertanam pada kendaraan tersebut dianggap tidak sebanding dengan beban kerja harian yang akan dihadapi oleh para petugas lapangan saat mendistribusikan paket makanan sehat.
Sebagai kendaraan operasional yang difungsikan layaknya alat transportasi tempur harian spesifikasi baterai yang hanya sebesar 72V 31Ah dinilai sangat riskan mengalami kendala kehabisan daya di tengah jalan.
Ketidakseimbangan Antara Tenaga Motor Dan Kapasitas Daya Baterai
Model Emmo JVX GT diketahui menggunakan motor listrik dengan daya rata-rata antara 3,8 hingga 7,0 KW yang secara teknis membutuhkan asupan energi listrik yang sangat besar.
Namun kenyataannya baterai yang disediakan hanya mampu memberikan jarak tempuh maksimum sejauh 70 kilometer dalam kondisi pengujian ideal tanpa adanya beban muatan tambahan yang dibawa kendaraan.
Jika dibandingkan dengan kompetitor di kelasnya seperti Alva Cervo X yang memiliki daya motor lebih rendah justru dibekali baterai lebih besar yakni sebesar 73.6V 45Ah untuk performa.
Analisis Pakar Mengenai Konsumsi Energi Saat Membawa Muatan Berat
Yannes Pasaribu dari Institut Teknologi Bandung memberikan catatan kritis pada Jumat 10 April 2026 mengenai besaran kapasitas baterai yang hanya sekitar 2,23 kWh tersebut di lapangan.
Menurutnya konsumsi daya yang realistis untuk penggunaan operasional distribusi makanan dengan medan jalanan yang beragam seharusnya berada pada rentang 2,5 hingga 3 kWh setiap 100 kilometer.
Permasalahan utama akan muncul ketika motor tersebut dipaksa membawa muatan logistik yang berat karena rolling resistance dan kebutuhan torsi mesin dipastikan akan melonjak sangat drastis secara mendadak.
Risiko Penurunan Jarak Tempuh Secara Drastis Pada Medan Kasar
Saat digunakan pada medan yang kasar atau menanjak kebutuhan energi motor listrik ini bisa meningkat hingga 2 atau 3 kali lipat dibandingkan dengan penggunaan pada jalanan yang rata.
Lonjakan konsumsi daya yang bisa mencapai 5 hingga 8 kWh per 100 kilometer ini akan membuat jarak tempuh operasional motor anjlok jauh di bawah angka klaim pabrikan.
Hal tersebut berisiko membuat baterai menjadi cepat panas serta boros yang pada akhirnya dapat menghambat proses distribusi makanan bergizi gratis kepada masyarakat di wilayah terpencil Indonesia.
Potensi Kendala Logistik Akibat Keterbatasan Daya Jelajah Kendaraan
Jarak tempuh maksimum yang hanya 70 kilometer pada dasarnya sudah tergolong pendek untuk ukuran kendaraan logistik yang harus bergerak secara dinamis dari satu titik ke titik lainnya.
Dalam penggunaan nyata atau real time angka tersebut diprediksi akan menurun drastis menjadi hanya sekitar 50 hingga 60 kilometer saja tanpa adanya hambatan medan yang terlalu sulit.
Situasi akan semakin memburuk jika ditambah dengan beban muatan paket makanan yang sangat banyak sehingga sangat mungkin daya jelajah motor tersebut turun hingga di bawah 50 kilometer.
Kebutuhan Evaluasi Spesifikasi Teknis Demi Kelancaran Program Nasional
Kritik dari kalangan akademisi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pihak penyelenggara program agar melakukan evaluasi mendalam terhadap pemilihan unit kendaraan operasional yang akan digunakan secara massal.
Ketahanan baterai dan kecukupan daya jelajah merupakan kunci sukses utama agar program Makan Bergizi Gratis tidak terkendala oleh masalah teknis transportasi yang tidak mumpuni di lapangan kelak.
Tanpa adanya peningkatan kapasitas baterai dikhawatirkan biaya operasional akan membengkak karena petugas harus lebih sering melakukan pengisian ulang daya listrik di tengah jadwal distribusi yang sangat padat.
Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perangkat pendukung program nasional ini memiliki kualitas standar yang tinggi agar tujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak bangsa dapat tercapai maksimal.
Optimalisasi infrastruktur pengisian daya atau penggantian spesifikasi baterai yang lebih tangguh menjadi opsi yang sangat masuk akal untuk diambil sebelum distribusi kendaraan dilakukan secara luas ke daerah.