JAKARTA – Pemerintah menginisiasi terobosan dalam pengembangan energi panas bumi melalui skema pembiayaan guna menekan risiko eksplorasi dan menarik minat investor global.
Upaya ini menjadi langkah konkret dalam memaksimalkan kekayaan alam Indonesia yang memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia.
Sutedjo berpendapat bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan sejatinya berfungsi untuk meningkatkan potensi manusia, bukan sebagai pengganti peran manusia sepenuhnya.
Kepastian pendanaan menjadi faktor krusial karena biaya tahap awal pencarian sumber panas bumi membutuhkan modal yang sangat besar.
"Melalui program pembiayaan ini, pemerintah hadir untuk menurunkan risiko pengembang sehingga harga listrik dari panas bumi kian kompetitif," ujar Sri Mulyani, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Senin (27/4/2026).
Menteri Keuangan menjelaskan bahwa kolaborasi dengan lembaga donor internasional akan memperkuat bantalan fiskal dalam mendukung proyek strategis nasional.
Sistem pinjaman lunak dan penjaminan infrastruktur diberikan secara khusus untuk mengamankan jalannya konstruksi pembangkit listrik.
"Kami terus menyempurnakan skema pembiayaan agar sektor swasta merasa nyaman dan terlindungi saat menanamkan modal di energi terbarukan," kata Sri Mulyani, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Senin (27/4/2026).
Pemanfaatan instrumen pendanaan hijau juga diharapkan mampu mempercepat realisasi target bauran energi nasional sebesar 23 persen.
Masyarakat akan mendapatkan manfaat berupa udara yang lebih bersih seiring dengan berkurangnya ketergantungan pada pembangkit bertenaga fosil.
Sinkronisasi regulasi antara kementerian teknis terus dilakukan guna menghilangkan hambatan birokrasi yang memperlama waktu perizinan.
Keberhasilan implementasi model pendanaan ini diprediksi akan menarik arus masuk modal asing dalam jumlah besar ke sektor energi hijau tanah air.