BEIJING - China kembangkan baterai mobil listrik berbahan batu bara tanpa emisi yang diklaim lebih murah dan stabil dibandingkan teknologi material konvensional saat ini.
Negara berjuluk Negeri Tirai Bambu tersebut kini sedang melakukan riset intensif untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alam domestik secara lebih berkelanjutan.
Langkah strategis ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada material langka seperti grafit alam yang selama ini menjadi komponen utama dalam pembuatan anoda.
Penggunaan batu bara sebagai bahan baku dianggap mampu memangkas biaya produksi baterai secara signifikan tanpa mengorbankan performa penyimpanan energi.
Tim peneliti menyatakan bahwa struktur karbon yang dihasilkan dari pengolahan khusus memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap siklus pengisian daya yang berulang.
"Kami telah menemukan metode untuk mengekstraksi material aktif dari batu bara yang mampu bekerja setara dengan material anoda kelas atas," ungkap Profesor Zhang selaku kepala riset proyek tersebut, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (20/4/2026).
Zhang menjelaskan, proses konversi ini dilakukan melalui teknik pemanasan suhu tinggi dalam lingkungan vakum sehingga tidak ada gas berbahaya yang terlepas ke atmosfer.
Inovasi ini juga menjadi jawaban atas kritik global mengenai dampak lingkungan dari sektor pertambangan batu bara yang selama ini dianggap kotor.
Teknologi baru tersebut memungkinkan konversi energi yang lebih bersih karena residu karbon diolah kembali menjadi bagian dari ekosistem energi terbarukan.
Baterai jenis ini diharapkan dapat segera memasuki tahap produksi massal dalam 2 hingga 3 tahun ke depan untuk mendukung target netralitas karbon global.
Selain aspek lingkungan, stabilitas termal dari material berbasis batu bara ini diklaim jauh lebih aman dalam menghadapi risiko kebakaran pada kendaraan listrik.
Industri otomotif diprediksi akan mengalami pergeseran harga yang cukup drastis jika teknologi anoda berbahan batu bara ini resmi diadopsi secara luas oleh pabrikan global.