Polemik Pilihan Geothermal Atadei atau Tenaga Surya di Lembata

Rabu, 29 April 2026 | 21:51:47 WIB
ilustrasi geothermal lembata

LEMBATA – Perdebatan mengenai pemanfaatan Geothermal Atadei atau tenaga surya di Lembata terus bergulir seiring dengan pertimbangan dampak lingkungan dan kebutuhan energi.

Pilihan sumber energi listrik di wilayah ini memicu diskusi panjang mengenai keberlanjutan ruang hidup masyarakat adat.

"Geothermal ini merupakan energi bersih, namun kita harus melihat apakah ini sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis serta penolakan masyarakat di Atadei," ungkap Ali, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (29/4/2026).

Ali menjelaskan bahwa terdapat alternatif lain yang bisa dipertimbangkan oleh pemerintah selain memaksakan kehendak pada proyek panas bumi.

Pengembangan panel surya skala besar dinilai lebih minim risiko konflik sosial dibandingkan dengan pengeboran di wilayah pegunungan.

Kekhawatiran muncul mengenai potensi pencemaran sumber air warga jika proyek ekstraksi panas bumi tetap dilanjutkan di lokasi tersebut.

Ali berpendapat, bahwa transisi energi seharusnya tidak mengabaikan suara warga lokal yang sudah turun-temurun menjaga kelestarian alam Atadei dari ancaman kerusakan lingkungan.

Sektor pariwisata dan pertanian yang menjadi urat nadi ekonomi warga dikhawatirkan bakal terganggu oleh aktivitas industri skala besar.

Optimalisasi energi matahari dianggap jauh lebih relevan mengingat intensitas cahaya yang tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur sepanjang tahun.

Keputusan akhir mengenai proyek ini diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan ekologi dan ekonomi secara adil.

Terkini