JAKARTA – Tren mobil listrik bekas terus meningkat namun proses inspeksi baterai masih menjadi kendala utama bagi para calon pembeli maupun pihak diler di Indonesia.
Pertumbuhan pasar kendaraan listrik saat ini mulai merambah ke sektor unit purna pakai seiring banyaknya model baru yang bermunculan.
Salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha otomotif adalah ketiadaan alat standar untuk mengukur degradasi daya simpan energi secara praktis.
Ketua Umum Asosiasi Dealer Mobil Bekas Indonesia, Setiawan, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada perangkat universal yang bisa digunakan untuk memverifikasi kondisi kesehatan komponen inti tersebut.
"Hingga detik ini, pengecekan baterai secara mendalam hanya bisa dilakukan di bengkel resmi masing-masing merek," ujar Setiawan, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Senin (4/5/2026).
Setiawan berpendapat, ketergantungan pada diler resmi ini membuat proses transaksi di pasar barang bekas menjadi lebih lambat dan memakan biaya tambahan bagi penjual.
Kondisi tersebut berdampak pada penetapan harga jual yang seringkali tidak memiliki standar pasti karena variabel kesehatan baterai yang tidak terlihat.
Pengecekan fisik kendaraan hanya mampu memantau bagian eksterior, interior, dan kaki-kaki tanpa menyentuh aspek vital perangkat lunak baterai.
Calon pembeli umumnya merasa ragu untuk meminang unit jika tidak mendapatkan laporan resmi mengenai State of Health dari komponen penyimpan daya.
"Kami sangat berharap ada teknologi pihak ke 3 yang mampu melakukan sertifikasi baterai secara independen dan akurat agar pasar lebih bergairah," ungkap Setiawan, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Senin (4/5/2026).
Pihak asosiasi melihat adanya kebutuhan mendesak akan standarisasi sertifikasi baterai untuk memberikan rasa aman bagi konsumen.
Investasi pada alat diagnosis mandiri masih dianggap terlalu mahal bagi sebagian besar pengusaha diler skala menengah dan kecil.
Beberapa perusahaan rintisan teknologi mulai mencoba masuk ke ceruk pasar ini dengan menawarkan solusi pindai cepat melalui soket diagnostik.
Meskipun demikian, integrasi data dari sistem manajemen baterai milik produsen kendaraan masih sering terkunci oleh protokol keamanan pabrikan.
Ketersediaan infrastruktur pendukung ini akan menentukan seberapa cepat ekosistem kendaraan listrik bekas bisa menyamai popularitas mobil konvensional.