JAKARTA – Harga batu bara membara akibat lonjakan permintaan global di tengah krisis energi yang melanda berbagai negara saat ini.
Pasar komoditas internasional menyaksikan pergerakan angka yang cukup signifikan pada perdagangan terbaru. Ketegangan pasokan di beberapa wilayah produsen utama menjadi faktor pendorong utama kenaikan ini.
"Kami melihat ada kecenderungan pasar yang sangat agresif dalam mengamankan pasokan untuk cadangan musim dingin," ujar Ahmad Zuhdi, pengamat pasar energi, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (5/5/2026).
Zuhdi berpendapat, bahwa ketidakpastian geopolitik di wilayah Eropa turut memberikan andil besar terhadap fluktuasi harga yang terjadi saat ini.
Efek domino dari mahalnya gas alam memaksa banyak industri beralih kembali ke bahan bakar fosil yang lebih terjangkau. Hal tersebut secara otomatis meningkatkan volume pesanan pada bursa berjangka.
Data menunjukkan bahwa indeks harga di pelabuhan utama mengalami kenaikan sebesar 5% dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Volume transaksi harian juga mencatatkan angka di atas rata-rata bulanan.
"Pemerintah perlu waspada terhadap dampak kenaikan ini bagi biaya pokok penyediaan listrik domestik," kata Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (5/5/2026).
Setiawan memprediksi, jika tren penguatan ini terus berlanjut maka tekanan inflasi pada sektor energi tidak akan terhindarkan bagi negara importir.
Pihak otoritas terkait kini mulai memantau distribusi produksi nasional guna memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi sesuai regulasi DMO. Keseimbangan antara ekspor dan pemenuhan domestik menjadi kunci stabilitas ekonomi saat ini.
Laju kenaikan harga diprediksi masih akan berlanjut hingga kuartal 3 tahun ini. Analis memperkirakan angka 200 dolar AS per ton bisa tertembus jika situasi global tidak kunjung mendingin.