BEIJING – Tren pengemudi China beralih ke truk listrik semakin kuat karena efisiensi biaya dan dukungan subsidi pemerintah yang mempercepat pengembalian investasi.
Sektor logistik di Negeri Tirai Bambu mengalami transformasi besar dengan meningkatnya adopsi kendaraan komersial bertenaga baterai secara signifikan.
Xu Shuo berpendapat, bahwa peralihan yang dilakukan oleh para operator armada saat ini didasari oleh perhitungan bisnis yang masuk akal dan bukan sekadar mengikuti tekanan regulasi semata.
"Operator armada beralih karena perhitungan akhirnya masuk akal, bukan hanya karena tekanan regulasi," kata Xu Shuo, kepala keuangan di GAC Lingcheng, dalam sebuah wawancara, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Selasa (20/4/2026).
Pangsa pasar kendaraan ini telah menyentuh angka 20 persen dari keseluruhan segmen komersial.
Lonjakan penjualan hingga 3 kali lipat sepanjang tahun 2025 menjadi indikator kuat perubahan minat pasar tersebut.
Data dari Pusat Teknologi & Penelitian Otomotif China menunjukkan volume penjualan bulanan melampaui 24.000 unit pada Maret.
Meskipun harga beli truk listrik lebih tinggi sekitar 100.000 hingga 150.000 yuan dibanding model diesel, efisiensi bahan bakar menjadi daya tarik utama.
Pemerintah di Beijing juga turut andil dengan memperpanjang program subsidi tukar tambah hingga penghujung tahun ini.
Periode pengembalian modal untuk investasi tambahan pada armada listrik diperkirakan bisa tercapai dalam waktu hanya 1 tahun.
Kondisi geopolitik yang memengaruhi pasokan bahan bakar fosil turut mempercepat keputusan perusahaan logistik untuk meninggalkan mesin konvensional.
Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya operasional truk diesel tidak lagi kompetitif bagi pengusaha angkutan barang.
Persaingan produsen seperti GAC Lingcheng, XCMG Construction Machinery, dan China FAW Group semakin kompetitif dalam menghadirkan inovasi baterai.
Transformasi ini diprediksi akan terus menekan permintaan bahan bakar fosil di pasar domestik China dalam jangka panjang.