PALEMBANG - Dampak kenaikan BBM mulai merambah sektor industri namun pengaruhnya terhadap inflasi pangan masih relatif tertahan berkat intervensi stok pasar.
Kenaikan biaya energi ini secara perlahan mengubah peta pengeluaran operasional pada berbagai lini pabrik di wilayah Sumatera Selatan.
"Kenaikan harga BBM ini memang memberikan tekanan tersendiri bagi pelaku usaha, terutama pada komponen biaya logistik dan distribusi barang," ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Erwin Soeriadimadja, dilangir dari berbagai sumber, Selasa (6/5/2026).
Erwin menjelaskan bahwa meskipun biaya produksi meningkat, pemerintah daerah terus berupaya menjaga agar rantai pasok bahan pokok tidak terganggu secara drastis.
Indikator ekonomi menunjukkan adanya pergeseran margin keuntungan yang harus diterima oleh para pengusaha manufaktur saat ini.
Laju inflasi pada kelompok bahan makanan masih dapat dikendalikan melalui koordinasi intensif dalam program operasi pasar murah yang digelar secara rutin.
"Kami melihat kenaikan harga pangan masih dalam batas wajar karena pasokan dari daerah sentra produksi tetap berjalan lancar tanpa kendala berarti," kata Erwin.
Pihak otoritas moneter meyakini bahwa penguatan kerja sama antar daerah menjadi kunci utama dalam meredam gejolak harga di tingkat konsumen.
Sinergi antara kebijakan pusat dan daerah sangat diperlukan untuk memastikan daya beli masyarakat tetap stabil di tengah ketidakpastian harga energi global.
Pemantauan terhadap harga 12 komoditas pangan pokok dilakukan setiap hari demi mencegah adanya spekulasi yang merugikan publik.
"Fokus utama saat ini adalah memastikan ketersediaan stok di gudang-gudang bulog mencukupi untuk kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan," tegas Erwin.
Evaluasi berkala terhadap dampak kebijakan energi ini akan terus dilakukan untuk menentukan langkah intervensi ekonomi selanjutnya yang lebih efektif.