Prospek Industri Batubara dan Nikel di Tengah Transisi Energi Global

Rabu, 06 Mei 2026 | 13:46:34 WIB
ilustrasi batubara

JAKARTA – Analisis mendalam mengenai prospek industri batubara dan nikel di tengah fluktuasi harga komoditas global serta dorongan hilirisasi mineral Indonesia.

Sektor pertambangan saat ini tengah berada dalam persimpangan jalan antara ketergantungan pada energi fosil dan ambisi pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan berpendapat, bahwa prospek batubara masih cukup tangguh berkat permintaan dari sektor kelistrikan domestik meskipun tekanan global untuk beralih ke energi baru terbarukan semakin kuat.

"Untuk batubara, kita melihat meskipun ada tren transisi energi, kebutuhan di dalam negeri terutama untuk PLTU masih sangat besar dalam beberapa tahun ke depan," ujar Alfred, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu (6/5/2026).

Pemerintah terus mendorong para pelaku usaha untuk tidak sekadar melakukan ekspor bahan mentah guna menjaga stabilitas ekonomi sektor tambang.

Mengenai komoditas nikel, Alfred menyatakan bahwa tantangan utama saat ini adalah kelebihan pasokan di pasar global yang sempat menekan harga hingga ke level terendah.

"Kondisi nikel memang lebih menantang karena suplai yang melimpah, namun hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia memiliki daya tawar lebih tinggi di pasar internasional," kata Alfred.

Pergerakan saham-saham emiten di kedua sektor ini diperkirakan akan sangat bergantung pada efisiensi operasional dan kemampuan adaptasi perusahaan terhadap kebijakan lingkungan.

Konsumsi nikel diprediksi tetap tumbuh seiring dengan ambisi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.

Pasar tetap memantau secara ketat kebijakan suku bunga global yang secara tidak langsung berdampak pada biaya logistik dan ekspansi perusahaan tambang.

Terkini