JAKARTA – Pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama nikel dengan Filipina melalui skema B2B guna memperkuat posisi tawar kedua negara di pasar global.
Langkah strategis ini diambil untuk menyelaraskan kebijakan dua produsen mineral terbesar dunia dalam menghadapi dinamika pasar internasional yang kian kompetitif.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan sektor privat secara langsung.
"Kalau ditanya kerja sama dengan Filipina, kita akan bahas. Apakah bentuknya nanti kerja sama antarpemerintah atau B2B, itu terbuka," ujar Bahlil, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Selasa (5/5/2026).
Bahlil berpendapat, bahwa sinergi antara kedua negara sangat krusial mengingat Indonesia dan Filipina memiliki cadangan mineral yang signifikan untuk mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik global.
Pembicaraan mengenai pengelolaan sumber daya alam ini bertujuan untuk memastikan harga mineral tetap stabil dan memberikan nilai tambah yang maksimal bagi perekonomian domestik.
Pemerintah optimistis bahwa integrasi rantai pasok antara Jakarta dan Manila akan menjadi kekuatan baru dalam industri mineral kritis di kawasan Asia.
Fokus utama saat ini adalah mematangkan kerangka kerja yang dapat mengakomodasi kepentingan pengusaha dari kedua belah pihak secara adil dan berkelanjutan.
Rencana ini juga diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi asing yang masuk ke sektor hilirisasi mineral di kawasan Asia Tenggara dalam jangka panjang.