JAKARTA - Shell Plc melaporkan lonjakan laba yang signifikan pada kuartal I-2026, yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas (migas) sebagai dampak dari perang Iran.
Ketegangan tersebut juga memicu volatilitas tinggi yang memberikan keuntungan bagi lini bisnis perdagangan migas skala besar milik Shell.
Berdasarkan pernyataan resmi perusahaan yang berpusat di London tersebut, laba bersih Shell yang disesuaikan terkerek hingga mencapai US$6,92 miliar. Perolehan ini melampaui estimasi median analis yang dihimpun oleh Bloomberg sebesar US$6,1 miliar.
Kenaikan harga bahan bakar turut meningkatkan margin bisnis kilang Shell. Di sisi lain, perusahaan memutuskan untuk mengurangi nilai pembelian kembali saham triwulanan menjadi US$3 miliar, dari posisi sebelumnya senilai US$3,5 miliar.
Secara volume, total produksi minyak dan gas Shell justru merosot 4% jika dibandingkan dengan kuartal IV-2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh imbas konflik Iran terhadap operasional produksi perusahaan di Qatar.
Pihak manajemen memprediksi produksi pada kuartal kedua akan kembali menyusut akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung, ditambah dengan peningkatan aktivitas pemeliharaan terencana di berbagai portofolio perusahaan.
Perang telah memicu kerusakan pada aset-aset migas di wilayah Timur Tengah serta menghambat arus pengiriman, yang kemudian mengakibatkan lonjakan tajam harga energi dan volatilitas pasar.
Situasi pasar tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan raksasa Eropa yang memiliki divisi perdagangan besar dalam mengelola fluktuasi harga. Sejak konflik pecah di akhir Februari, harga minyak Brent telah melesat lebih dari 50%.
Meskipun sempat melandai dari titik tertingginya, harga Brent bertengger di kisaran US$101 per barel pada Kamis (7/5/2026), menyusul kabar mengenai potensi kesepakatan antara AS dan Iran untuk menyudahi konflik.
Walaupun Shell tidak memerinci angka pendapatan dari operasi perdagangannya, sektor ini terlihat mengalami pertumbuhan pesat. Divisi Kimia dan Produk Shell membukukan pendapatan yang disesuaikan senilai US$1,93 miliar, naik drastis dari US$449 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian tersebut diraih di tengah kondisi margin sektor kimia yang cenderung lemah, yang sebelumnya sempat menekan pendapatan selama tiga tahun kepemimpinan CEO Wael Sawan. Margin kilang minyak indikatif perusahaan tercatat naik menjadi US$17 per barel dari posisi US$14.
Gangguan akibat perang telah memicu dislokasi di pasar energi global, menyebabkan premi fisik minyak mentah serta bahan bakar melonjak, sekaligus menciptakan peluang bagi para pedagang komoditas untuk tumbuh.
Perusahaan trader minyak independen seperti Vitol Group dan Trafigura Group juga dilaporkan meraup laba besar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Shell menjadi perusahaan migas raksasa Barat terakhir yang merilis laporan keuangan triwulanan. Rival mereka di Eropa, BP Plc dan TotalEnergies SE, turut mencatatkan lonjakan laba berkat kuatnya kinerja perdagangan selama masa perang.
Sementara itu, Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp di Amerika Serikat memang diuntungkan oleh tingginya harga komoditas, namun harus menghadapi gangguan produksi dan dampak negatif dari posisi derivatif.
Menatap masa depan, Shell memproyeksikan belanja modal tahun ini berada di kisaran US$24 miliar hingga US$26 miliar, lebih tinggi dari target awal sebesar US$20 miliar sampai US$22 miliar. Shell menyatakan bahwa, "peningkatan tersebut termasuk sekitar US$4 miliar yang terkait dengan akuisisi ARC Resources Ltd. yang baru-baru ini kami umumkan."